Minggu, 22 Oktober 2017

market-outlook  Market Outlook

Dilema Ekonomi Tirai Bambu

Senin, 15 April 2013 13:59 WIB
Dibaca 917

Monexnews - Selama 3 dasawarsa terakhir perekonomian China tumbuh dengan laju rata-rata sekitar 10% per tahun. Fenomena ini menjadikan negeri tirai bambu sebagai kekuatan ekonomi paling disegani di dunia. Kemajuan ekonomi turut berdampak positif terhadap tingkat kesejahteraan warga di sana dan jumlah warga golongan menengahnya melonjak drastis melampaui negara-negara lain.

Namun kondisi tersebut perlahan memudar dalam beberapa bulan terakhir. Laju pertumbuhan China di tiga bulan pertama 2013 bahkan lebih lambat dibanding perkiraan analis dan ekonom. Meski melampaui target pemerintah di 7,5%, Produk Domestik Bruto (GDP) China hanya tumbuh 7,7% di kuartal I.

Begitu banyak pekerjaan rumah yang dihadapi oleh pemerintah dalam satu tahun terakhir dalam upaya percepatan laju ekonomi. Jika pada tahun 2012, inflasi menjadi momok utama, maka untuk tahun ini potensi masalahnya adalah ekspansi besar-besaran di pasar kredit dan perumahan. Awal bulan April, lembaga pemeringkat Fitch memperingatkan China soal jumlah hutangnya yang dinilai terlampau besar. Volume kredit di China berekspansi terlampau cepat di tengah kembalinya indikasi krisis global, sebagian besar surat hutang diterbitkan oleh pemerintah daerah dan dipergunakan untuk mendanai proyek infrastruktur. Padahal di sisi lain neraca keuangan pemerintah-pemerintah daerah sangat timpang dan kerjasama dengan pebisnis lokal sangat lesu. Fitch berkeyakinan bahwa tingkat hutang akumulatif akan melambung tinggi, sehingga pada titik tertentu pemerintah pusat terpaksa harus menanggung akibatnya.

Iklim pasar hunian China juga meresahkan pemerintah sehingga pihak Beijing harus mengambil langkah antisipatif berupa pengetatan moneter. Pemerintah pusat pada bulan Februari lalu melontarkan kekhawatirannya soal masa depan pasar propoerti dan langsung menginstruksikan pemda untuk mendinginkan harga. Bertambahnya jumlah warga golongan menengah telah membuat minat investasi hunian naik pesat dalam beberapa waktu terakhir sehingga besaran harga menjadi tidak rasional lagi.

Kepemimpinan baru China, yang baru dilantik bulan November tahun lalu, bertekad menyeimbangkan kembali segala komponen ekonomi nasional. Strategi utamanya adalah dengan menggenjot daya konsumsi dalam negeri dan mengurangi ketergantungan pada investasi berbasis infrastruktur, manufaktur dan real estat. Pemulihan ekonomi secara bertahap jauh lebih baik bagi Presiden Xi Jinping dan Perdana Menteri Li Keqiang untuk mengejar reformasi ekonomi. Sebagian besar pengamat melihat adanya kemungkinan penurunan pertumbuhan atau stagnasi ekonomi di semester II tahun ini, dengan mengacu pada kemungkinan lonjakan harga properti dan inflasi. Dua komponen moneter ini dapat memaksa bank sentral untuk kembali mengencangkan sabuk moneternya dalam hitungan bulan.

Perlambatan ekonomi di negara perekonomian terbesar ke-dua dunia turut berpengaruh terhadap kineja harga saham domestik. Jika indeks-indeks saham utama global tengah menapaki momentum kejayaan, bursa saham China justru ketinggalan kereta. Shanghai Composite hanya mampu mendulang kenaikan 2,5% sepanjang tahun ini meskipun sempat naik signifikan di dua bulan pertama 2013. Sementara indeks Hang Seng telah merugi sebanyak 1,4% dalam periode yang sama. Jika ditilik lebih lanjut, rasio penguatan indeks China memang tidak terlalu buruk, Namun jika dibandingkan dengan dua indeks penting dunia, yakni Dow Jones dan Nikkei, performanya jelas jauh di bawah kategori ideal. Indeks Dow Jones sudah menguat sebanyak 11% sejak bulan Januari dan Nikkei meroket sampai 21% di tengah trend pelemahan nilai tukar Yen. Indeks-indeks ekuitas di Eropa bahkan masih mencatat kinerja yang lebih baik ketimbang China, meskipun konsisten diterjang kabar negatif dari Siprus, Italia maupun Portugal. Sejalan dengan kebijakan anti-bubble pemerintah, saham-saham properti dan keuangan menjadi sasaran aksi jual investor dalam beberapa bulan terakhir. Sebagian besar investor mulai meninggalkan pasar saham dan beralih ke aset investasi lain yang lebih menjanjikan. Beberapa opsi favorit adalah penanaman modal di aset properti fisik, instrumen dana nasabah dan produk campuran yang terkadang lebih mampu menghasilkan return lebih baik.

Jika diamati ke belakang, perubahan kinerja ekonomi China merupakan konsekuensi dari laju ekonomi yang terlalu cepat di masa lalu. Kini pihak Beijing harus berkoordinasi menentukan langkah antisipatif untuk menekan risiko bubble sektoral tanpa memperlambat laju ekonomi nasional. Pengetatan moneter baru masih mungkin muncul sepanjang 2013, khususnya di sektor kredit, perbankan dan perumahan. Kecil kemungkinan bagi pasar saham untuk menuai kenaikan marjinal, serupa dengan raihan gain indeks-indeks utama dunia.

 

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar