Minggu, 23 Juli 2017

market-outlook  Market Outlook

Efek Tapering Tidak akan Seburuk Perkiraan

Rabu, 18 Desember 2013 11:40 WIB
Dibaca 1895

Monexnews - Dewan Kebijakan Federal Reserve dijadwalkan menggelar pertemuan akbarnya pada hari Rabu (18/12) waktu Amerika Serikat. Poin pembahasan yang paling ditunggu tentunya soal realisasi pengurangan stimulus atau tapering, yang selama tiga kuartal terakhir menjadi momok bagi pelaku pasar keuangan dunia.

Sejak pertama kali diluncurkan oleh bank sentral, program pembelian obligasi berdampak baik terhadap kinerja harga saham sepanjang 2013. Pengurangan stimulus di penghujung tahun tentunya akan mengganggu momentum kenaikan grafik indeks utama Wall Street dan rentan memperlambat pertumbuhan ekonomi. Beberapa pihak meyakini langkah pengetatan moneter akan dimulai bulan ini. Salah satunya adalah Berenberg Bank, yang melihat peluang tapering dan no tapering makin berimbang jadi 50:50.

Sejak pertama kali merilis program pembelian obligasi senilai $85 miliar per bulan sejak September 2012, bank sentral belum sekalipun mengerem misi pelonggaran moneternya. Kebijakan yang dikategorikan ke dalam quantitative easing atau QE ini menandai program moneter jilid III sejak krisis keuangan melanda di tahun 2008. Lebih dari itu, QE seakan menjadi bahan bakar utama bagi ketiga indeks saham di New York pasca menyentuh titik nadirnya di bulan Maret 2009.

Ketakutan besar membayangi benak investor pasar keuangan dan pelaku ekonomi. Tapering dikhawatirkan bisa memperlambat laju perekonomian dan momentum penguatan bursa saham. Namun demikian, dampak tapering diprediksi tidak seburuk apa yang dibayangkan selama ini karena pelaku pasar keuangan sudah mengantisipasinya dan Federal Reserve tidak akan setega itu membiarkan pasar modal bergejolak lagi. Dalam salah satu kolomnya, media Time memaparkan 3 efek yang akan ditimbulkan oleh tapering moneter, yaitu:


1. Pasar saham akan terkoreksi, meskipun tidak akan sampai tercipta suatu 'crash'. Investor memang tidak bisa mengetahui skala dan ukuran dari pengurangan stimulus, namun selama ini Federal Reserve selalu menjaga kepentingan pasar modal. Dewan gubernur pasti menginginkan agar masa transisi kebijakan tidak menyakiti pasar finansial. Sejak krisis melanda setengah dasawarsa silam bank sentral selalu mengkomunikasikan kebijakannya secara baik.

2. Minat terhadap aset-aset berisiko akan berkurang. Investor akan menerbangkan dananya ke pos-pos investasi yang lebih aman, sebagaimana terlihat pada musim panas lalu saat the Fed memberi sinyal tapering. Harga komoditi dan pasar keuangan negara berkembang hampir pasti terpukul cukup keras. Namun saham-saham blue chips New York yang memiliki fundamental baik bisa bertahan pasca pengurangan stimulus moneter. Walaupun nantinya harga saham terkoreksi secara merata, pasar modal Amerika Serikat tidak akan mencatat penurunan seburuk apa yang ditakutkan oleh banyak orang. Mengingat dalam separuh tahun ini, investor sudah mengantisipasi fase pengetatan moneter dan merancang strategi portofolionya. Satu pertanyaan yang patut dikedepankan adalah sejauh mana perekonomian Amerika bisa bertahan tanpa stimulus ekstra? Apabila nantinya lini perekonomian tidak sekuat perkiraan bank sentral, maka perusahaan akan menjadi pihak yang pertama kali terkena dampak kemunduran. Di situlah koreksi saham yang sesungguhnya akan terlihat.

3. Suku bunga pada akhirnya akan naik, namun tidak dalam waktu dekat. Federal Reserve secara gamblang sudah menjelaskan bahwa langkah pengurangan porsi pembelian obligasi dan surat hutang berbasis perumahan tidak sejalan dengan kebijakan suku bunga. Artinya, keputusan tapering tidak otomatis diikuti oleh kenaikan suku bunga acuan dari level rendah. Pemisahan kebijakan ini sangat penting karena dengan kenaikan bunga rata-rata perumahan yang saat ini hanya 1.25%, pasar hunian masih sangat rapuh. Apalagi kalau nantinya suku bunga acuan dinaikkan, maka minat kredit rumah akan semakin lesu. Jika mempertimbangkan laju inflasi dan volume permintaan yang rendah sekarang, bisa dikatakan kalau suku bunga rendah akan bertahan setidaknya sampai tahun 2015 mendatang.

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar