Senin, 23 Oktober 2017

market-outlook  Market Outlook

India dan Indonesia, Dua Primadona yang Kebal Guncangan

Jumat, 7 Februari 2014 17:20 WIB
Dibaca 1915

Monexnews - Di tengah guncangan ekonomi dan instabilitas moneter yang menerpa negara berkembang (emerging markets), terdapat dua negara yang sampai sekarang relatif kebal dari pengaruh negatif. India dan Indonesia menunjukkan kepada dunia bahwa mereka memiliki fondasi ekonomi yang kuat, lebih kuat dibandingkan negara kuda hitam lainnya, termasukTurki ataupun Afrika Selatan.

Volatilitas di pasar keuangan negara berkembang kian merajalela dalam beberapa pekan terakhir. Skenario pencabutan stimulus moneter di Amerika Serikat merupakan headline utama yang menggiring investor untuk menjauhi aset emerging countries. Penurunan kinerja ekonomi di China turut memperburuk situasi sehingga pelaku pasar melarikan modalnya ke produk investasi yang lebih aman. Volume modal keluar (outflow) tergolong besar, berbanding lurus dengan kondisi negara berkembang yang kehilangan kapitalisasi dari kocek investor asing.

Pelarian dana dari pasar keuangan Asia semakin merajalela di bulan ke-dua 2014. Dalam satu pekan terakhir (hingga 5 Februari-red), jumlah uang yang keluar dari pasar saham dan obligasi tergolong tinggi dan jumlahnya bahkan menjadi yang terbesar sejak bulan Juni silam. Menurut data yang dikumpulkan oleh lembaga pemantau lalu lintas modal, EPFR, investor global menarik dananya dari pasar finansial negara berkembang atau emerging markets sebanyak total US$4.2 miliar atau sekitar Rp51 triliun. Sektor yang kapitalisasinya paling banyak digerus oleh investor adalah pasar ekuitas, yang notabene merupakan jenis investasi berisiko. Alasan utama di balik peralihan modal dari pasar Asia adalah tingginya kekhawatiran pemilik modal terhadap prospek ekonomi di Amerika Serikat. 

Kombinasi antara pelemahan bursa saham Amerika Serikat dan memudarnya daya tarik aset regional memang membuat instrumen berbasis emerging markets kurang diminati sejak akhir tahun lalu. Tidak hanya di Asia, negara berkembang Eropa dan Afrika mengalami fenomena serupa tahun ini.

Selain dipengaruhi oleh dinamika eksternal, guncangan ekonomi di negara berkembang juga disebabkan oleh faktor domestik, mulai dari korupsi hingga pembengkakan neraca transaksi berjalan. Berbeda dengan koleganya, baik India dan Indonesia lebih sukses dalam upayanya meyakinkan investor. Otoritas moneter masing-masing negara telah lama berkomitmen untuk menjaga stabilitas neraca keuangan, termasuk pos defisitnya. Langkah pertama yang dilakukan India dan Indonesia adalah menaikkan suku bunga sejak dini, yakni mulai pertengahan tahun lalu ketika aksi jual produk keuangan baru saja dimulai. Adapun strategi lainnya cukup bervariasi; India mengharamkan impor emas untuk waktu yang tidak ditentukan, sedangkan pihak Indonesia berani mengambil kebijakan non-populer. Selain menaikkan pajak barang mewah, kementerian keuangan Indonesia juga berupaya melindungi kepentingan nasional dengan cara melarang ekspor bahan mineral mentah ke luar negeri.

Maka tidak heran jika angin perubahan mulai bisa dinikmati, tepat di saat negara-negara kuda hitam ekonomi lain sedang berjuang melindungi pos fiskal dan moneternya. Pekan ini, Indonesia berhasil mencetak surplus perdagangan untuk bulan ke-tiganya secara beruntun, dengan suplus Desember mencapai $1.52 miliar. Tidak hanya itu, negara perekonomi terbesar di Asia Tenggara ini juga mengejutkan pelaku pasar dengan capaian GDP kuartal IV 2013, yang juga lebih bagus dibandingkan perkiraan.

Bagaimana dengan India? New Delhi baru saja mengirim pesan kepada pelaku pasar tentang keseriusan mereka dalam menjaga stabilitas inflasi domestik. Reserve Bank of India mengerek suku bunga dari 7.75% menjadi 8.00% guna membentengi diri dari ancaman inflasi. Langkah tersebut untuk sementara ini berjalan efektif, setidaknya untuk melindungi kurs supaya tidak merosot lebih dalam.

Sepanjang tahun 2014, nilai tukar mata uang India dan Indonesia tergolong lebih kuat dibandingkan kinerja kurs negara berkembang lainnya. Kala Lira Turki turun ke rekor terendah dan Rand Afrika Selatan tembus ke level terburuk dalam lima tahun terakhir, kurs Rupee India dan Rupiah Indonesia relatif lebih stabil. Bisa dibilang kalau kedua valuta tersebut sudah terkena 'giliran' depresiasi pada tahun lalu sehingga volatilitasnya lebih kalem untuk tahun ini. Rupee memang sempat merosot ke rekor terendahnya terhadap Dollar pada bulan Agustus lalu, namun sejak bulan Januari kemarin kursnya hanya melemah 1% ke kisaran 62.52. Performa yang sama juga dicatat oleh Rupiah pasca mengalami koreksi 26% di tahun 2013. Kurs IDR di awal tahun ini justru adem ayem di area 12.170 per Dollar.

Bursa Efek Indonesia di saat yang sama juga mengukir performa yang lebih apik dibandingkan pasar saham 4 negara emerging utama yakni India, Brazil, Turki dan Afrika Selatan. Penguatan saham Jakarta sebanyak 2.6% tahun ini termasuk impresif, terlebih jika dibandingkan dengan kinerja saham Brazil, yang anjlok 9.5% pada periode yang sama.

Berdasarkan parameter-parameter tadi, bisa disimpulkan bahwa investor sesungguhnya tidak benar-benar anti terhadap produk keuangan berbasis emerging markets. Namun mereka hanya ingin suatu komitmen dari pemerintah dan otoritas terkait prospek ekonomi nasional masing-masing negara di tengah tingginya pengaruh negara-negara maju. Kebijakan inovatif India dan Indonesia untuk sementara waktu memang bisa dibilang berhasil. Sayangnya tidak ada yang bisa menjamin stabilitas moneter dan anggaran akan tetap terjaga karena guncangan baru bisa muncul sewaktu-waktu.

 

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar