Selasa, 12 Desember 2017

market-outlook  Market Outlook

Kecil, Peluang Pemangkasan Suku Bunga Australia

Senin, 3 Juni 2013 10:27 WIB
Dibaca 653

Monexnews - Pertemuan Reserve Bank of Australia (RBA) pekan ini akan menyita perhatian pelaku pasar. Investor pasar uang berkepentingan untuk mengetahui langkah apa yang akan dilakukan bank sentral dalam menyikapi dinamika nilai tukar Dollar Australia dan perlambatan ekonomi domestik. Gubernur Glenn Stevens diprediksi tidak akan mengubah suku bunga untuk sementara waktu setelah dewan kebijakan menurunkannya pada pertemuan terakhir.

Otoritas moneter akan kembali bertemu hari Selasa (04/06) untuk berdiskusi tentang efek pemangkasan suku bunga sebanyak 25 basis poin ke level 2.75%, yang diputuskan pada meeting bulan Mei. Jika mengacu pada pelemahan kurs Aussie belakangan ini, RBA kemungkinan menahan diri sementara waktu. Depresiasi kurs yang lebih dalam rentan memicu gejolak di pasar uang dan stabilitas moneter. Nilai tukar AUD yang merosot drastis sejauh ini cukup menyenangkan eksportir walaupun sebagian pihak merasa depresiasi kurs belum menguntungkan semua pihak.

Nilai tukar Dollar Australia (AUD) sudah anjlok sekitar 7% terhadap Dollar Amerika dari level tertingginya di bulan April. Padahal tiga pekan lalu, Aussie masih kuat dia atas level paritas (1:1) sebelum akhirnya tergerus oleh penguatan USD. Mata uang negeri kangguru layak dinobatkan sebagai valuta dengan kinerja terburuk karena rasio koreksinya bahkan melampaui Yen, yang 'hanya' turun sebanyak 6% di tengah pelonggaran agresif pemerintah Tokyo.

Kondisi perekonomian Australia sendiri makin tidak menentu setelah muncul indikasi penurunan ekonomi China dan merosotnya harga komoditi. China merupakan mitra dagang paling penting bagi Australia sehingga apapun yang terjadi di negara itu imbasnya akan sangat berpengaruh terhadap kinerja ekspor dalam negeri.

RBA sendiri telah memangkas suku bunga sebanyak total 200 basis poin sejak akhir tahun 2011 guna memudahkan aktivitas pelaku bisnis dan daya beli konsumen. Mengingat selama ini pihak eksportir terkendala oleh memburuknya daya saing produk di luar negeri, sementara sektor pertambangan juga sedang lesu. Depresiasi Aussie secara langsung memang sudah memperbaiki daya jual produk negeri kangguru di luar negeri. Namun demikian, masih ada pelaku industri komoditi yang masih belum diuntungkan oleh penurunan nilai tukar beberapa bulan terakhir. Menurut lembaga keuangan ANZ, petani dan produsen gandum masih mengalami kesulitan bersaing karena kurs saat ini belum cukup untuk melawan harga jual gandum dari negara lain. "Supaya petani gandum bisa mendapat keuntungan, maka AUD/USD harus turun lagi sampai 12%," ujar Paul Deene, Analis ANZ. Jika dikomparasi dengan nilai mata uang negara produsen hasil tani lainnya, kurs Dollar Australia masih lebih tinggi 43% dibandingkan awal tahun 2006 silam. "Walaupun kurs melemah, marjin keuntungan panen tahun ini diperkirakan nomor tiga terendah dalam sejarah Australia," tutup Deene. Apabila bank sentral kembali memangkas suku bunga pada pertemuan berikutnya, maka harapan pelaku industri agrikultur bisa terwujud. Terlebih lagi hasil tani seperti gandum merupakan sumber pemasukan utama bagi negeri kangguru selama puluhan tahun. Akan tetapi, sekalipun nantinya RBA turut mempertimbangkan aspirasi pelaku sektor riil yang menghendaki nilai tukar turun lebih rendah lagi, pemangkasan suku bunga susulan (sepertinya) belum akan terjadi di bulan Juni. Nilai tukar AUD/USD saat ini terpantau di 0.9623.

 (dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar