Jumat, 28 Juli 2017

market-outlook  Market Outlook

'Lika-liku Percepatan Ekonomi China'

Selasa, 15 Oktober 2013 14:36 WIB
Dibaca 1344

Monexnews - Perlambatan ekonomi China diprediksi tidak berlangsung dalam waktu lama. Pelaku pasar keuangan menilai perekonomian negeri tirai bambu akan membaik mulai paruh ke-dua 2013 dan menguat lagi tahun depan.

CNN baru saja melakukan survei terhadap analis dan ekonom terkait trend pertumbuhan ekonomi China. Hasilnya, perekonomian China diperkirakan tumbuh 7.8% pada kuartal III 2013 dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Rasio pertumbuhan gross domestic product (GDP) tersebut lebih tinggi dibandingkan catatan kuartal II (7.5%) dan kuartal I 2013 (7.7%). Biro Statistik Nasional China sendiri baru akan merilis laporan GDP resminya pada hari Jumat mendatang (18/10).

Terlepas dari membaiknya proyeksi pertumbuhan di negara perekonomian terbesar Asia pada kuartal III, trend tahunan kemungkinan masih mengecewakan. Ekonom memprediksi laju pertumbuhan ekonomi China untuk tahun buku 2013 adalah sebesar 7.6% atau hanya sedikit di atas target pemerintah, 7.5%. Sementara untuk 2014, perekonomian diyakini hanya mampu tumbuh 7.25% atau rasio terendah dalam lebih dari dua dasawarsa terakhir.

Data GDP China merupakan indikator ekonomi paling komprehensif dari negara komunis itu. Melalui angka-angka di dalamnya, pelaku ekonomi bisa mengukur sejauh mana efektivitas program stabilisasi pemerintah. Pihak Beijing dituntut untuk kembali membangkitkan gairah bisnis dan konsumsi, khususnya pasca masa-masa emas perekonomian.

Pertumbuhan rata-rata China menembus kisaran 10% per tahun dalam tiga dekade terakhir. Fenomena ini menjadikan negeri tirai bambu sebagai negara perekonomian terbesar ke-dua dunia, menyingkirkan Jepang dan satu posisi di bawah amerika Serikat. Kemajuan sektor perdagangan internasional dan bisnis keuangan bahkan melahirkan jutawan-jutawan muda serta menaikkan jumlah warga kelas menengah.

Sayangnya masa-masa kejayaan ekspor China mulai pudar seiring dengan terjadinya gejolak di sistem keuangan regional. Pangsa pasar yang dulu menjadi mitra dagang setia kini sedang mengalami resesi dan krisis hutang, seperti Inggris dan zona Euro. Sementara di sisi lain, pos pemasukan sangat bergantung pada revenue ekspor ke luar negeri. Oleh karena itu, pemerintah mencoba untuk mengalihkan basis ekonomi dari lini ekspor ke konsumsi domestik.

Kelemahan utama dari perekonomian China terletak pada dependensi-nya yang tinggi kepada pasar kredit. Melonjaknya minat kredit pelaku bisnis dan masyarakat memicu kemunculan bank-bank bayangan, yang meminjamkan uang kepada pengusaha kecil menengah. Pengusaha-pengusaha ini biasanya diacuhkan oleh pihak bank pemerintah sehingga mencari alternatif lain dengan meminjam ke bank-bank kecil. Portofolio peminjaman dana seringkali dialokasikan ke dalam bentuk paket untuk dijual lagi kepada investor yang menginginkan keuntungan besar. Hal ini rawan memicu suatu gejolak di sistem keuangan akibat 'liarnya' mekanisme kredit di level bawah. Padahal di sisi lain pemerintah daerah masih menanggung hutang besar dan pasar properti mengalami lonjakan harga di luar batas wajar.

Pemerintah mencoba memperbaiki neraca keuangan daerah yang tidak sehat dengan cara meng-audit keuangan pemda-pemda. Hasilnya baru bisa dilihat sebelum pertemuan Partai Komunis China bulan November mendatang. Laporan audit tersebut kemungkinan bisa mempengaruhi program ekonomi nasional untuk tahun depan. Mengingat pada pertemuan bulan depan, partai berkuasa diagendakan merancang reformasi moneter dan keuangan demi meningkatkan kembali sektor ekonomi terus lesu. Terkuaknya pembengkakan hutang daerah tentu akan menghambat optimalisasi belanja modal pemerintah. 

 

 (dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar