Jumat, 28 Juli 2017

market-outlook  Market Outlook

Menerka 'Comfort Zone' Yen di Tahun 2013

Senin, 14 Januari 2013 16:26 WIB
Dibaca 921

Monexnews - Nilai tukar Yen telah melemah sebanyak 14% terhadap Dollar sejak awal bulan Oktober 2012. Hal tersebut disambut baik oleh pelaku industri manufaktur, yang sebagian besar memiliki basis pasar di luar negeri. Seakan belum cukup, Perdana Menteri Shinzo Abe kembali menekan Bank of Japan (BOJ) supaya memperlonggar kebijakan moneternya dengan lebih agresif. Pihak Tokyo bahkan rela pos hutangnya membengkak demi menggelontorkan dana baru ke sistem perekonomian dalam negeri. Apabila skenario kebijakan berjalan sesuai rencana, maka nilai tukar Yen akan melemah lagi tahun ini.


Abe adalah orang yang berperan di balik langkah pembelian obligasi pemerintah dalam jumlah yang 'tidak terbatas'. Ia juga sosok yang paling menghendaki bank sentral menaikkan target inflasi menjadi 2% untuk tahun ini. Pun demikian, masih belum jelas apakah bank sentral yang terkenal independen mau menuruti semua permintaan sang Perdana Menteri baru dalam waktu dekat. "Kami sangat berharap BOJ melaksakan pelonggaran moneter secara agresif disertai target inflasi yang jelas," ujar Abe pasca pengumuman stimulus fiskal $117 miliar pekan lalu.


Pelemahan nilai tukar Yen membuat harga barang-barang buatan Jepang menjadi lebih murah di luar negeri. Hal itu berdampak baik bagi pelaku industri karena barang produksinya bisa lebih menarik dari sisi harga saat dipasarkan. Bahkan sekecil apapun penguatan Yen di pasar uang, imbasnya terhadap pendapatan eksportir bisa sangat besar. Salah satu korporasi terbesar negeri Sakura, Toyota Motors, bahkan mengklaim setiap 1% penguatan atau pelemahan Yen terhadap Dollar akan berakibat pada kenaikan atau penurunan laba sebesar $397 juta dalam laporan tahunan. Pengakuan serupa dilontarkan oleh pihak Nissan, yang juga memiliki pangsa pasar luas di luar negeri. "Saya sudah katakan sejak lama bahwa penguatan Yen sudah tidak terkendali," kata CEO Carlos Ghosn bulan lalu. Ia menyebut kisaran 100 Yen per Dollar sebagai area netral yang bisa diterima eksportir. Banyak pihak menilai harapan sang CEO tidak akan terwujud. Mayoritas ekonom melihat sudah cukup bagus bagi Yen apabila bisa merapat ke level 90 per Dollar dalam jangka pendek. Citigroup memperkirakan USD/JPY menguat hingga ke kisaran 95 di penghujung tahun ini.


Satu faktor lain yang dapat membendung penguatan Yen adalah perubahan kinerja neraca perdagangan Jepang dari surplus menjadi defisit akibat terdampak bencana gempa, tsunami dan krisis nuklir 2011. Stagnasi produksi sempat membuat kinerja ekspor terhenti dan impor bahan bakar melambung. Situasi tersebut sempat menimbulkan dilema bagi pemerintah karena pelemahan Yen sama artinya dengan membuat biaya impor bahan bakar impor melonjak. "Sulit untuk menentukan level nilai tukar berapa yang paling ideal," tutur Richard Koo, Chief Economist Nomura Research Institute. Koo melihat kebijakan pelemahan Yen saat ini tidak akan se-efektif biasanya karena terbentur fenomena perlambatan ekonomi dan lonjakan biaya impor bahan bakar. Sementara Jesper Koll, Head of Equity Research JPMorgan yang berbasis di Tokyo, mengungkapkan bahwa kurs 'adil' bagi USD/JPY ada di kisaran 90-95. Estimasi itu mengacu pada pengamatannya sepanjang musim belanja tahun lalu, di mana kisaran tadi bisa mencerminkan paritas daya beli konsumen Jepang.


Sekalipun pelemahan Yen nantinya benar-benar terbukti dan mampu mendukung kinerja ekspor, wacana peningkatan kinerja ekonomi masih menghadapi kendala lain. Stimulus yang dikucurkan pemerintah belum tentu bisa diserap oleh pelaku bisnis dan sektor swasta. "Setelah satu setengah dekade susah payah membayar hutang, perusahaan Jepang enggan berurusan dengan bank lagi," urai Richard Koo. Menurutnya, pemberian insentif pajak investasi dan pelonggaran aturan soal depresiasi aset lebih berguna bagi pelaku industri saat ini.


Sementara Jesper Koll melihat adanya keuntungan jangka pendek dari pelonggaran moneter yang diambil pemerintah, namun efeknya tidak akan lama tanpa suatu reformasi struktural. "Untuk menarik minat investasi perusahaan di Jepang, pemerintah harus menurunkan pajak korporasi sambil mengurangi biaya energi dan mempercepat deregulasi," imbuhnya. Terlepas dari berapapun level idaman yang ditargetkan oleh pelaku pasar uang, Shinzo Abe dan kolega pasti telah memiliki kalkulasinya sendiri. Hanya waktu yang akan menjawab sejauh mana nilai tukar valuta Jepang terdepresiasi dalam beberapa bulan ke depan. 


(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar