Selasa, 23 Mei 2017

market-outlook  Market Outlook

Mengapa Syria Begitu Berpengaruh terhadap Harga Minyak?

Jumat, 6 September 2013 11:13 WIB
Dibaca 2181

Monexnews - Harga minyak melonjak dalam beberapa pekan terakhir dan kini mulai menjajaki peluang ke $110 per barel. Kenaikan harga yang terjadi secara drastis lebih banyak dipicu oleh risiko penurunan suplai dari negara-negara produsen terbesar dunia. Ketegangan politik di Syria bahkan sukses menjaga minyak tetap di posisi tinggi padahal negara ini tidak ada dalam daftar eksportir komoditi penting. Jika faktanya demikian, mengapa potensi perang Amerika Serikat-Syria membuat prospek persediaan memburuk?

Semakin panas tensi perang dingin antara blok barat dan Syria, semakin tinggi pula harga minyak merangkak dalam sepekan terakhir. Investor sangat peka dalam menyikapi konflik politik di kawasan Timur Tengah meskipun negara yang bermasalah bukanlah produsen utama. Seperti dilansir dari situs CNN, Syria memproduksi sedikit sekali sumber daya minyak dengan volume harian hanya mencapai 180.000 barel atau jauh lebih kecil dibandingkan dengan total produksi global yang mencapai angka 89 juta barel per hari. Namun kondisi geografis wilayah Arab yang terintegrasi membuat risiko tersendiri bagi kelancaran distribusi bahan bakar energi. Asumsi serupa juga berlaku saat harga minyak melambung di tengah dinamika kudeta Mesir, di mana sebagian area kedaulatannya (Teluk Suez) merupakan jalur perdagangan utama.

Jika ditilik secara mendalam, potensi perang Syria jadi begitu pelik bagi pasar minyak mentah karena konfliknya tidak hanya meliputi blok barat versus Bashar al-Assad. Ketakutan perang lebih besar justru lebih kepada keterlibatan sekutu masing-masing, yang mempunyai pengaruh politik lebih besar dalam penciptaan stabilitas keamanan dunia. Militer Syria selama ini dikenal akrab dengan Iran, yang juga sejak lama menjadi penyuplai senjata ke pasukan pertahanan al-Assad. Sementara di kubu lain, sudah jadi rahasia umum bahwa Arab Saudi dan Qatar setia menyokong ketersediaan senjata bagi pihak pemberontak Syria. Diferensiasi kepentingan inilah yang rawan memicu perang antar negara Arab di masa depan.

Di luar kawasan Timur Tengah, pihak Amerika Serikat jelas menjadi aktor penting yang memegang kendali perang. Satu serangan roket dari Washington akan merusak ketenangan masyarakat dunia. Situasi dipastikan memburuk apabila Rusia, yang berdiri di belakang pemerintah berkuasa Syria, benar-benar merespon agresivitas Barack Obama dengan aksi militer yang tidak kalah keras. Peran Rusia bagi perwujudan stabilitas pasar energi menjadi penting karena negara ini memiliki sumber daya yang maha kaya. Dengan produksi menembus 10.4 juta barel per hari (data 2012), negeri beruang merah bisa leluasa mengambil keputusan tidak populer dalam kebijakan minyak mentahnya. Vladimir Putin bisa saja menghentikan ekspor ke luar negeri apabila keberatan dengan aksi militer blok barat terhadap Syria. Jika itu yang terjadi, sulit dibayangkan bagaimana harga minyak akan bergejolak di pasar komoditi.

Kembali ke Syria, negara ini juga berkepentingan menjaga stabilitas distribusi karena posisi geografisnya dekat dengan titik transit lalu lintas impor minyak. Selat Hormuz merupakan jalur yang posisinya sangat dekat dengan wilayah Syria dan mengakomodasi pengiriman 17 juta barel minyak setiap harinya. Sementara di bagian Selatan Syria, lokasi distribusi terdekat adalah Kanal Suez dan jalur pipa Sumed, yang mengalirkan 3.8 juta barel minyak per hari. Terminal pipa Ceyhan yang mengangkut hasil produksi minyak ke wilayah Asia Tengah juga tidak jauh dari ujung utara Syria. Meskipun Syria tidak mempunyai kendali atas lalu lintas minyak, potensi terganggunya pasokan sudah terpapar nyata. Apabila Amerika jadi menyerang Damaskus, pasti akan ada negara tetangga yang tidak mau ambil risiko dan memilih untuk menutup instalasi maupun jalur distribusi minyak sementara waktu. Setidaknya sampai situasi keamanan lebih stabil.

Sebagai perbandingan, berikut adalah fakta berkurangnya pasokan minyak di tengah dinamika politik Timur Tengah dalam setahun terakhir:

1. Sanksi program nuklir Iran oleh PBB berdampak pada penurunan volume produksi mencapai 1.2 juta barel per hari.

2. Kisruh tenaga kerja dan serangan terhadap instalasi pipa minyak di Libya berdampak pada penurunan volume produksi mencapai 1.2 juta barel per hari.

3. Aksi pencurian dan serangan terhadap pipa instalasi minyak di Nigeria berdampak pada penurunan volume produksi mencapai 300 ribu barel per hari.

4. Kendala teknis produksi dan serangan terhadap pipa instalasi minyak di Irak berdampak pada penurunan volume produksi mencapai 250 ribu barel per hari.

*Kontrak berjangka minyak mentah kini terpantau pada posisi $108.35 per barel.

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar