Sabtu, 22 Juli 2017

market-outlook  Market Outlook

Negara Berkembang Dibayangi Trauma Krisis 1997

Rabu, 29 Januari 2014 11:29 WIB
Dibaca 2253

Monexnews - Penurunan harga aset-aset keuangan yang berasal dari negara berkembang dalam kurun waktu tiga bulan terakhir mulai mengkhawatirkan investor. Bagaimana tidak, kondisi seperti ini pernah terjadi pada tahun 1997 silam, di mana akhirnya krisis moneter menggerogoti laju ekonomi beberapa negara Asia. Trauma krisis satu setengah dekade lalu itu mendorong pemilik modal untuk menarik dananya dari negara berkembang dan mengalihkannya ke aset yang lebih aman.

Terlepas dari besarnya ketakutan pelaku pasar, skenario krisis baru sesungguhnya masih jauh dari kenyataan. Tahun 2014 bukanlah 1997, di mana pada saat itu banyak negara belum memiliki skema moneter yang tahan guncangan. Sekarang negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, sudah memiliki kebijakan moneter yang lebih kompleks dan cadangan modal yang lebih besar. Modal inilah yang niscaya mampu melindungi nilai tukar domestik dari aksi spekulatif 'pemain besar', seperti George Soros pada 1997 lalu. Kalaupun ada negara yang bisa terpuruk ke dalam krisis baru, mungkin hanya Argentina. Negara-negara lain seperti Indonesia, Brazil dan India sudah mempunyai fondasi fiskal dan moneter yang lebih mapan. Sementara Turki masih harus berjuang menstabilkan harga dan nilai tukar, serta membuktikan kepada investor bahwa golongan birokrat mereka steril dari kasus korupsi.

Selain terseret oleh pelemahan bursa saham Amerika Serikat, pelemahan harga di pasar modal negara berkembang lebih banyak dipengaruhi oleh aksi jual pemodal, yang khawatir dengan prospek investasinya. Indeks emerging markets, MSCI EM, sudah terkoreksi sebanyak 7.1% sepanjang tahun ini. Pelaku pasar menilai kondisi yang sedang melanda negara berkembang saat ini tidak akan bertambah baik namun justru berangsur memburuk. Pertimbangan utamanya tak lain adalah wacana penarikan stimulus moneter oleh Bank Sentral Amerika Serikat dalam dua tahun ke depan.

Sejak krisis finansial melanda Amerika Serikat sekitar 6 tahun lalu, aset-aset negara berkembang memang lebih disukai oleh investor. Pelonggaran moneter yang dilakukan Federal Reserve, yakni melalui pengucuran stimulus dan penurunan suku bunga ke level ekstrim, membuat produk-produk keuangan asal negeri adidaya tidak memberikan return yang bagus. Aksi beli aset-aset negara berkembang terus berlangsung setidaknya sampai satu tahun silam sehingga nilai tukar sebagian mata uang negara berkembang konsisten menguat. Namun sekarang di tengah fase awal penarikan stimulus Amerika, prospek produk emerging markets sudah tidak menjanjikan lagi. Setidaknya asumsi inilah yang dipakai oleh mayoritas investor.

Beberapa negara mulai mempromosikan berbagai cara untuk melindungi perekonomian domestik dan nilai tukarnya masing-masing. Bank Indonesia mengerek suku bunga ke level 7.50% hanya dalam beberapa kali pertemuan. Reserve Bank of India kemarin juga menaikkan suku bunga dari 7.75% menjadi 8.00% karena kurs mata uangnya terus merosot. RBI dalam pernyataannya menyebut kenaikan suku bunga akan membantu pencapaian target inflasi konsumen meskipun tidak ada yang bisa membantah kalau nantinya penurunan kinerja pasar modal dan ekspektasi pengetatan di pasar kredit justru berbalik rawan menggerogoti pertumbuhan ekonomi sekaligus memperlemah nilai tukar Rupee. Di Turki, bank sentral bahkan menggandakan suku bunga acuan nyaris dua kali lipat yaitu dari level 7.75% menjadi 12%. Bank-bank sentral seakan tidak malu-malu lagi dalam mengambil kebijakan demi memperkuat benteng moneternya. 

Setiap negara berkembang memiliki masalah yang sama dari sisi distorsi ekonomi global, yakni tapering stimulus Bank Sentral Amerika Serikat dan indikasi perlambatan ekonomi jangka menengah. Tetapi di sisi lain masing-masing pemerintahan juga punya problematikanya sendiri, yang membuat investor mulai ketakutan. Indonesia dengan defisit neraca transaksi berjalannya, India dengan penurunan laju pertumbuhannya dan Turki dengan isu korupsinya. Namun di balik semua fakta yang ada, hampir bisa dipastikan bahwa krisis moneter 1997 tidak akan terulang. Guncangan yang bisa sewaktu-waktu hadir hanya bersifat sektoral dan bukan mempengaruhi perekonomian secara fundamental.

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar