Sabtu, 21 Januari 2017

breaking-news Penjualan Ritel Inggris turun -1.9% di Desember vs. 0.2% di November, ekspektasi -0.1%.

market-outlook  Market Outlook

'Nikkei Tagih Janji Manis Abe'

Jumat, 7 Juni 2013 10:31 WIB
Dibaca 616

Monexnews - Pasca meroket ke langit tinggi, bursa Jepang kembali terseretke bumi. Indeks utama kehilangan 20% hanya dalam dua pekan sehingga memunculkan teka-teki baru, apakah Nikkei benar-benar sedang merintis fase bearish-nya.

Rekor terbaik yang pernah dijangkau oleh (spot) Nikkei adalah level 15,942.6 pada tanggal 23 Mei 2013. Sejak saat itu, indeks merosot drastis selama dua pekan hingga berakhir di bawah 13,000 pada sesi perdagangan Kamis (06/06). Untuk hari ini, peta pergerakan saham tidak jauh berbeda dengan kemarin namun pelemahan lebih lanjut terbendung oleh depresiasi kurs Yen terhadap Dollar.

Jika ditarik ke belakang, kerugian harga saham dalam setengah bulan terakhir tidak membuat reputasi Nikkei anjlok begitu saja. Terlepas dari koreksi 20% dari puncak tertinggi, Nikkei masih tercatat menguat 24% sepanjang tahun ini atau bahkan masih lebih bagus dibanding kenaikan S&P 500 Amerika yang hanya 13%. Opini analis dan pelaku pasar terhadap ekuitas Jepang sekarang terbelah dua, yakni asumsi bahwa manuver terkini adalah awal mula pola bearish atau opini yang menganggap penurunan terakhir hanya berupa koreksi.

"Pergerakan ini sekedar koreksi dan bukan musibah," ujar Nariman Behravesh, Kepala Ekonom IHS. Ia menilai investor sedang terbawa pesimisme dalam menyikapi kebijakan moneter ala Shinzo Abe atau lazim disebut 'Abenomics'. Sejak memerintah di bulan Desember, Perdana Menteri Jepang telah merilis sederet kebijakan moneter guna memerangi deflasi, termasuk koordinasi belanja pemerintah, stimulus bank sentral dan reformasi ekonomi struktural. Investor antusias menyambut agresivitas Abe dengan aksi agresif pula. Mereka memborong saham-saham Jepang karena menganggap masa depan perekonomian akan semakin bagus di bawah kebijakan longgar pemerintah. Tidak hanya itu, aksi jual Yen juga terjadi di mana-mana sehingga pihak eksportir diuntungkan oleh depresiasi mata uang Jepang terhadap rival-rivalnya. Toyota, Sony dan Kirin adalah sedikit dari sekian banyak emiten bursa yang sedang menikmati kenaikan marjin profit di pasar luar negeri. Sayangnya, euforia tersebut meredup hanya karena nilai tukar Yen melemah lagi dalam beberapa sesi perdagangan terakhir.

"Penguatan Yen sudah membuat saham eksportir lesu lagi," tutur Cathy Lien, Direktur Pelaksana BK Asset Management. Pelaku pasar sekarang justru berbalik meragukan kemampuan Abe dalam menjalankan program-program yang dibangunnya sendiri. Dalam pidatonya hari Rabu lalu, Shinzo Abe berjanji untuk melakukan segalanya demi percepatan aktivitas bisnis domestik. Di antaranya adalah pencabutan larangan jual beli produk farmasi secara online dan penciptaan suatu zona ekonomi khusus. Program konkritnya kemungkinan besar baru dirilis dalam beberapa pekan ke depan, namun inti dari kebijakan baru Abe ditujukan untuk menciptakan lapangan kerja, menggalakkan imigrasi warga, mengaktifkan kembali reaktor nuklir yang tidak beroperasi pasca gempa dan membuka lowongan kerja bagi kaum wanita. Sederet wacana itu bertujuan untuk menaikkan pendapatan per kapita minimal 3% per tahun.

Sementara itu bank sentral tetap mengutamakan fokus kebijakan pada pencapaian inflasi 2% tanpa harus berdampak pada kenaikan suku bunga obligasi pemerintah. Hutang bruto nasional diproyeksikan menembus 230% dari total GDP pada tahun 2014 dan pos anggaran diharapkan lebih seimbang setelah mengalami defisit selama bertahun-tahun.

Kinerja bursa saham untuk jangka pendek sangat tergantung pada bagaimana pelaku pasar merespon program-program yang diluncurkan Abe bulan ini. Apabila rencana pemerintah dianggap mampu menggerakkan sendi perekonomian nasional, maka saham-saham kemungkinan laku keras diborong oleh investor yang berorientasi bullish. Kondisi sebaliknya juga berlaku jika apa yang dijanjikan Abe tidak sesuai dengan harapan investor dan indeks Nikkei berpotensi anjlok lebih dalam.

Dari sisi teknikal, level 12,101 (Fibonacci 50%) akan menjadi titik krusial yang menentukan nasib indeks selanjutnya. Fase bearish akan benar-benar terkonfirmasi saat Nikkei merangsek ke bawah Fibonacci 61.8% yakni level 11,175. "Kedua level tersebut berperan penting bagi masa depan Nikkei selanjutnya," urai Daru Wibisono, Periset dan Analis Senior PT Monex Investindo Futures. Spot Nikkei saat ini terpantau di level 12,577.37 dan futures tercatat di 12,580. 

 

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar