Selasa, 28 Maret 2017

market-outlook  Market Outlook

'Penguatan Dollar Bukanlah Drama'

Selasa, 30 September 2014 11:10 WIB
Dibaca 1628

Monexnews - Penguatan nilai tukar US Dollar beberapa pekan terakhir memang sudah diprediksi sejak awal tahun 2014. Kombinasi antara pemulihan ekonomi Amerika Serikat, penarikan stimulus 'quantitative easing' dan harapan akan dipangkasnya suku bunga acuan membuat 'the Greenback' semakin menarik di mata investor. Ada pelaku pasar finansial yang sudah jauh hari memperkirakan hal ini, namun kebanyakan menilai fase kenaikan USD datang terlalu dini 

Indeks Dollar, yang mengukur nilai tukar Dollar terhadap mata uang utama dunia lainnya, meroket ke level tertingginya dalam lebih dari 4 tahun terakhir. Kenaikannya begitu cepat sampai membuat pelaku pasar terkagum-kagum. "Momentum kenaikan Dollar seperti sekarang tidak pernah terjadi sebelumnya," ulas Tim Analis Societe Generale dalam rilis beritanya kemarin. Dollar memang mata uang yang dianggap sebagai 'aset aman' oleh investor keuangan, tetapi kenaikan kurs yang terjadi sekarang adalah cermin keyakinan pasar terhada trend pemulihan ekonomi di Amerika. Kondisi fundamental ekonomi yang berangsur membaik dipandang sebagai alasan bagi bank sentral untuk menaikkan suku bunganya dalam waktu dekat. Singkat kata, investor sudah mengantisipasi penyesuaian suku bunga dengan memborong lebih banyak Dollar ketimbang biasanya.

Kebetulan di saat yang sama, mata uang favorit lain seperti Euro dan Yen dipaksa untuk melemah karena tekanan bank sentralnya masing-masing. European Central Bank (ECB) baru mengeluarkan stimulus untuk menggerakkan roda ekonomi dan bisnis yang terlanjur lesu. Sama seperti apa yang dilakukan oleh Amerika Serikat 5 tahun lalu, peluncuran stimulus dalam jumlah besar sama artinya dengan mengebiri nilai tukar mata uangnya sendiri. Sementara valuta Yen juga mengalami nasib yang sama karena pemerintah Jepang sedang mati-matian mengejar target inflasi melalui fasilitas pendanaan yang bervariasi. Apabila Euro dan Yen saja sudah bertekuk lutut di hadapan USD, mata uang kelas dua dari negara berkembang juga tidak bisa berharap apa-apa.

Penguatan Dollar akan terus berlanjut karena wacana pengetatan moneter Federal Reserve Bank tinggal menunggu waktu untuk diberlakukan. "Nilai tukar masih akan naik karena perbedaan arah kebijakan antara Bank Sentral Amerika dan bank-bank sentral dunia lainnya," demikian kata pakar ekonomi dari Capital Economics. Lembaga analisa keuangan ini memprediksi 1 unit Euro akan setara $1.15 di akhir 2016, dibandingkan level rata-rata saat ini di $1.27. Sebagai catatan, Dollar sudah menuai kenaikan lebih dari 8% terhadap valuta tunggal Eropa dalam 6 bulan terakhir.

Jika dilihat dari perspektif investasi keuangan, fenomena pergerakan Dollar memang sudah diprediksi sehingga pelaku pasar telah mempersiapkan berbagai strategi transaksi. Sementara jika dilihat dari sisi ke-ekonomian Amerika sendiri, trend bullish Dollar juga menguntungkan konsumen dan pemerintah. Nilai tukar domestik yang lebih tinggi akan meringankan biaya pengeluaran importir untuk memesan barang dari luar negeri, karena harga produk impor jadi lebih murah. Konsumen bahkan lebih leluasa berkunjung ke luar negeri dan membeli produk asing dengan harga yang lebih terjangkau dibandingkan saat Dollar sedang lemah. Siklus ekonomi seperti ini dapat berperan dalam menjaga laju inflasi di dalam jalurnya sehingga bank sentral punya ruang untuk menahan suku bunga rendah sampai perekonomian benar-benar bangkit dari trauma 2008.

Selain memberikan keuntungan bagi perekonomian Amerika, trend penguatan Dollar tentu juga memiliki efek negatif. Dollar yang mahal hanya akan membuat harga jual produk ekspor menjadi lebih mahal di luar negeri. Padahal dalam kondisi 'normal' pun, perusahaan asal Amerika sudah kewalahan bersaing dengan produsen asal negara berkembang, seperti China, yang mampu membuat produk sejenis dengan harga murah. Perusahaan-perusahaan Amerika yang punya basis bisnis di luar negeri juga tidak akan menikmati keuntungan sebesar periode-periode sebelumnya mengingat jumlah laba mereka akan tergerus saat ditukarkan ke dalam bentuk USD.

Memang selalu ada untung rugi dari pergerakan suatu valuta, namun sepertinya terlalu dini untuk melihat efek riil-nya terhadap konsumen dan pelaku bisnis dalam waktu dekat. Terlebih lagi sentimen di pasar keuangan kerap bergerak cepat setiap data-data ekonomi terbaru keluar atau ketika bank sentral mengumumkan hasil rembukannya. Jadi tidak akan ada drama dalam kehidupan warga Amerika dan negara lain akibat fenomena yang ada, kecuali bagi investor yang bertaruh miliaran Dollar di pasar uang.

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar