Rabu, 26 Juli 2017

market-outlook  Market Outlook

Periode Sulit Rupiah Belum Berakhir

Selasa, 22 Desember 2015 13:16 WIB
Dibaca 44541

Monexnews - Tahun 2015 seakan menjadi momen sulit bagi mata uang Rupiah. Sama seperti mata uang negara berkembang lainnya, valuta kebanggaan Indonesia hancur lebur dihantam penguatan US Dollar. Kondisi ini kemungkinan bertahan hingga tahun depan karena adanya divergensi kebijakan moneter antara Jakarta dan Washington.

Rupiah berpeluang mengklaim lagi statusnya sebagai mata uang dengan kinerja paling buruk di Asia pada 2016 mendatang. Kombinasi antara penurunan cadangan devisa dan instabilitas neraca transaksi berjalan akan membuat valuta domestik melemah lagi terhadap US Dollar. Kenaikan suku bunga di Amerika Serikat (AS) secara otomatis juga akan mengurangi daya tarik investasi sehingga dana asing yang sekarang parkir di dalam negeri rawan terbang lagi ke negara asalnya.

Trend penurunan Rupiah dimulai tahun 2012 dan 2013 lalu, di mana kurs domestik mengalami pelemahan masing-masing 5,9% dan 21% terhadap Dollar. Kala itu Rupiah terpukul oleh penurunan harga komoditas dunia dan pengetatan kebijakan moneter di Amerika. Beberapa bank investasi dan media keuangan sudah mengutarakan ramalannya masing-masing terkait dengan kinerja kurs Rupiah tahun depan. Societe Generale melihat Rupiah punya peluang besar menyentuh 15.300 per Dollar di akhir 2016 mendatang atau jauh lebih buruk dibandingkan dengan hasil survei analis Bloomberg yang hanya 14.750 serta ABN Amro Bank dan Credit Suisse di kisaran 15.000. Perusahaan keuangan dengan prediksi paling akurat ke-dua dalam ranking Bloomberg kuartal lalu, Nomura Holdings, bahkan menaikkan target kurs USD/IDR untuk akhir 2016 dari 14.850 menjadi 15.200. Tidak ada mata uang negara berkembang lain yang dinilai punya prospek lebih suram ketimbang IDR kecuali Peso Argentina dan Real Brazil.

Ada beberapa alasan kuat yang melatarbelakangi prediksi tadi. Selama 9 bulan terakhir (sampai dengan November 2015), cadangan devisa Indonesia konsisten menurun dengan persentase mencapai 10% atau rasio penurunan terbanyak sejak Desember 2013. Di saat yang sama, investor asing memegang obligasi berdenominasi Rupiah dalam jumlah besar dengan akumulasi mencapai 38%, lebih tinggi dibandingkan Malaysia (31%) dan Thailand (15%). Tingginya modal asing di instrumen surat hutang domestik membuat Rupiah rentan guncangan. Ketika pola kebijakan moneter di Amerika kembali seperti masa pra-krisis dan perekonomian China masih gagal bangkit, maka uang-uang asing atau hot money yang bertebaran di dalam negeri akan terbang ke negara asalnya masing-masing . Pemilik modal tidak akan menganggap aset Indonesia menarik lagi karena return investasi di negara maju sudah lebih tinggi. Dalam hal ini, ekonomi China turut berperan besar dalam pergerakan Rupiah karena negara ini merupakan mitra dagang strategis, terutama untuk urusan jual beli komoditas. Kelesuan ekonomi di sana sudah membuat harga dan pesanan produk hasil bumi dari Indonesia merosot tajam dalam 3 tahun terakhir sehingga Rupiah ikut loyo di pasar uang.

Cadangan devisa merupakan sumber pendanaan bank sentral untuk melakukan intervensi nilai tukar dengan cara menjual Dollar. Jika jumlahnya sedikit, maka Bank Indonesia tidak akan leluasa masuk ke pasar di saat Rupiah melemah tajam terutama akibat pengaruh kebijakan di Amerika. Secara fundamental, kondisi ekonomi domestik tahun depan diyakini lebih baik dibandingkan sekarang. Kalau pada 2015 ini pertumbuhan ekonomi diramalkan sebesar 4,7%, maka untuk tahun 2016 rasionya diprediksi di kisaran 5,1% (survei Bloomberg). Pemerintah sendiri menargetkan produk domestik bruto (GDP) meningkat di batas atas kisaran 5,2% sampai 5,6% pada tahun depan. Artinya untuk memenuhi target tersebut, pemerintah perlu memangkas suku bunganya lagi sehingga pesona Rupiah bisa semakin berkurang. Terbuka skenario pemangkasan suku BI rate sebanyak 3 kali dalam 12 bulan ke depan dengan besaran masing-masing 25 basis poin.

Kabinet Presiden Joko Widodo memang sudah melakukan berbagai cara untuk mempercepat roda ekonomi meski efeknya belum terasa. Serial kebijakan ekonomi dirilis beberapa kali dengan substansi pelonggaran aturan dan regulasi di berbagai bidang, mulai dari pajak hingga perizinan usaha. Namun restrukturisasi kebijakan tersebut tidak serta merta memperbaiki prospek ekonomi Indonesia tahun depan. Bank Dunia dalam pernyataan resminya pekan lalu menyebut 2016 adalah 'periode yang menantang' bagi Indonesia disertai 'potensi gejolak' karena permintaan barang dari China semakin sedikit dan Amerika mulai menaikkan suku bunga. Walaupun sektor belanja negara membaik, pemasukan pajak masih rendah dan mengancam rencana ekonomi pemerintah sehingga pertumbuhan ekonomi nasional hanya mencapai 5,3% per tahun.

Memang tidak ada yang bisa menerka secara akurat sampai level berapa valuta garuda akan terdepresiasi. Namun jika melihat histori dan realita yang ada, bukan tidak mungkin pelemahannya menyaingi rasio koreksi Rupiah terhadap Dollar sepanjang 2015 yang sudah menembus 11%. (dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar