Jumat, 26 Mei 2017

market-outlook  Market Outlook

Risiko Inflasi akan Paksa BI Ubah Kebijakan

Senin, 1 April 2013 14:31 WIB
Dibaca 977

Monexnews - Laju inflasi terkini patut diwaspadai oleh investor yang menanamkan modalnya di Indonesia. Meskipun sentimen ekonomi dan arus dana masuk sangat kondusif, bukan berarti tidak ada risiko investasi di negara ini. Demikian pendapat tim analis Credit Suisse, merespon laporan inflasi beberapa saat lalu. 

"Tekanan inflasi memang lebih banyak disebabkan oleh lonjakan harga bahan pangan, namun Indonesia masih bergantung pada arus dana masuk untuk mendanai defisit perdagangannya," ulas Credit Suisse. Lembaga keuangan ini memperkirakan defisit current account melebar jadi $30 miliar pada tahun ini, atau lebih buruk dibandingkan defisit tahun 2012 lalu yang sebesar $25 miliar. Pelemahan nilai tukar Rupiah selama tujuh kuartal beruntun juga merupakan gase depresiasi kurs terpanjang sejak krisis Asia 2008 silam.

Pagi ini, Badan Pusat Statistik melaporkan bahwa inflasi berakselerasi dari 5.31% (Februari) menjadi 5.9% di bulan Maret 2013. Angka inflasi terbaru berada di atas target Bank Indonesia. Laju inflasi yang cepat membuka ruang bagi bank sentral untuk menaikkan Fasilitas Simpanan Bank indonesia atau FASBI sebanyak 25 poin menjadi 4.25% bulan ini. Pendapat itu dilontarkan oleh Bank of America-Merrill Lynch. Penyesuaian FASBI lebih realistis karena otoritas tanpak enggan mengubah suku bunga acuan dari level 5.75% dalam waktu dekat. "Kami memperkirakan total kenaikan FASBI mencapai 75 basis poin sepanjang tahun ini, mengacu pada kebijakan subsidi BBM pemerintah," ujar tim analis Merrill-Lynch.

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar