Rabu, 18 Januari 2017

breaking-news Indeks Rata-Rata Pendapatan Inggris naik 2.8% di November vs 2.6% di Oktober, estimasi 2.6%.

market-outlook Market Outlook

Saham Amerika Punya Bekal untuk Jaga Performa

Senin, 22 September 2014 13:45 WIB
Dibaca 658

<span style="font-family:tahoma, arial, helvetica, sans-serif;">Monexnews - Bursa saham Amerika Serikat pekan lalu sukses mengukir rekor tertinggi baru. Minat beli saham di New York terpicu setelah Federal Reserve Bank memberi tanda tentang kenaikan suku bunga. Pelaku pasar meyakini bahwa bank sentral belum akan me-normalisasi suku bunga acuan dalam waktu dekat karena masih ada indikator ekonomi yang belum memenuhi target.

Indeks S&P 500 sudah menguat nyaris 9% tahun ini. Kenaikan indeks tersebut sempat menimbulkan asumsi bahwa harga saham sudah mencapai titik jenuh dan segera koreksi. Namun sampai dengan pertengahan September, ekspektasi tersebut belum terbukti karena sentimen positif masih menaungi. Lebih dari itu, bursa Amerika diprediksi masih berpeluang mencetak rekor-rekor lainnya karena ada beberapa alasan yang melatarbelakanginya, antara lain:

1. Perekonomian tidak terlalu 'panas', dan tidak terlalu 'dingin'
Modal utama yang mendukung prospek kenaikan saham adalah suku bunga. The Fed kemungkinan besar tidak akan terlalu dini mengubah suku bunga acuan atau setidaknya bermain aman dengan menaikkan bunga di musim panas 2015 mendatang, sesuai perkiraan investor. "Kondisi ekonomi mendukung keinginan bank sentral, tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin," demikian pendapat Jim Russell, Kepala Strategi Saham US Bank Wealth Managemen kepada CNN. Menurutnya, kinerja ekonomi berjalan baik namun tidak terlalu cepat. Apabila perekonomian meningkat dalam laju yang terlalu pesat, maka hal ini justru akan membuka kenaikan suku bunga lebih cepat.

2. Pertumbuhan Laba Riil
Bagi kolektor saham, faktor terpenting yang mendasari pembelian ekuitas tentu saja adalah pertumbuhan laba emiten. Untuk urusan ini, perusahaan Amerika sudah terbilang sukses menjaga kinerja keuntungannya melalui ekspansi bisnis dan penghematan belanja. Di tengah pertumbuhan ekonomi, pihak produsen mampu menghasilkan laba lebih besar karena barang/jasa jualannya laris dibeli oleh konsumen. Daya beli warga terus naik dari waktu ke waktu, sejalan dengan trend perekonomian yang sedang berlangsung. "Apabila ekonomi terus membaik, maka pemasukan usaha akan mencapai puncaknya," ujar Robert Landry, Manajer Keuangan USAA yang bermarkas di San Francisco.

3. Stabilitas Geopolitik
Isu politik antar kawasan cukup mendominasi pasar keuangan sepanjang tahun 2014. Namun berita bagusnya, tidak ada isu yang terlalu lama membayangi pasar. Trend seperti itu kemungkinan besar akan berlanjut karena situasi politik di berbagai negara cenderung sudah bisa terbaca. Adapun krisis yang mengemuka dalam beberapa pekan terakhir di antaranya yaitu aksi kekerasan yang dilakukan oleh organisasi ISIS dan konflik antara Rusia dan Ukraina. "Memang ada reaksi negatif pasar terhadap setiap ketegangan politik, namun bursa saham selalu rebound dengan cepat," tambah Landry kepada CNN.

Tentu saja ada faktor lain yang justru bisa membalikkan kinerja bursa secara drastis. Salah satunya adalah valuasi harga saham Amerika yang cukup curam, di mana indeks S&P 500 sekarang diperdagangkan 15.6 kali dibandingkan proyeksi laba tahun depan, atau di atas rata-rata rasio price to earnings 10-tahun yang sebesar 14.1. Ada pula kekhawatiran soal perlambatan ekonomi Eropa yang rentan mempengaruhi prospek laba emiten-emiten berbasis ekspor. Pun demikian, pelaku pasar disarankan tidak perlu panik ketika koreksi harga terjadi di lantai bursa dalam beberapa waktu ke depan. "Penurunan (harga) adalah hal yang sehat, terutama jika saham sudah menguat banyak dalam waktu yang singkat," imbuh Landry.

 (dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar