Kamis, 19 Januari 2017

market-outlook Market Outlook

'Super Mario yang Tak Lagi Superior'

Jumat, 26 Juli 2013 13:11 WIB
Dibaca 656

Dua tahun sudah berlalu sejak Mario Draghi terpilih sebagai Presiden European Central Bank (ECB). Meski dahulu penunjukkannya berlangsung kontroversial, karena ditentang oleh banyak kalangan, sejauh ini tangan dingin 'Super Mario' cukup mampu memberi kenyamanan bagi pelaku pasar keuangan. Tidak terkecuali di negara yang sebagian besar medianya dulu memusuhi dirinya, yakni Jerman.

Monexnews - Pada tahun 2011 silam, media Jerman sempat melancarkan kampanye anti-Draghi di tengah proses pemilihan panglima tertinggi bank sentral. Eskalasi persaingan mencapai puncaknya saat calon potensial lainnya, yaitu Axel Weber, tersingkir dari kontestasi Presiden ECB. "Semoga bukan orang Italia ini (yang terpilih)!," tulis tabloid Bild dalam headline-nya dua tahun lalu. Tim redaksi media terbesar Jerman ini menilai laju inflasi Italia yang tidak terkendali mencerminkan buruknya manajemen moneter negara itu, sebuah alasan yang relevan bagi ECB untuk tidak memilih calon pemimpin dari negara yang sama.

Seiring waktu berjalan, sikap antipati tabloid Jerman terhadap Mario Draghi makin memudar. Orang Italia ini mampu memenangkan hati media Eropa dan Kanselir Angela Merkel dalam setiap kebijakan yang diambilnya. Pun demikian, bukan berarti rasa tidak percaya pelaku pasar dan pers hilang begitu saja. Saat ia berbaik hati memberi ruang bagi negara dengan hutang segudang, kritikus menganggapnya 'terlalu lunak' dalam memperlakukan anggota-anggota Euro yang 'nakal'. Media bahkan beberapa kali menyerukan supaya ECB bereaksi keras dalam upayanya membantu iklim pemulihan Eropa. "Publik Jerman adalah yang paling skeptis (tidak percaya). Padahal selama ini Draghi sudah melakukan apapun yang ia bisa lakukan untuk menghindari krisis," urai Reinhard Cluse, Ekonom UBS, seperti dilansir oleh CNBC.

Dalam hasil survei CNBC terhadap 10 orang ekonom dan analis, Draghi mendapat nilai 8 dari skala 10 atas performanya sebagai Presiden Bank Sentral. Sebagian besar responden memuji pernyataannya setahun lalu terkait 'melakukan apa saja' untuk melindungi zona Euro. Satu kalimat itu memang sempat menenangkan gejolak di pasar finansial yang sedang carut marut pada 2012 silam. Statement pendek nan berisi itu berhasil menurunkan imbal hasil obligasi pemerintah, memperkuat kurs Euro dan mengurangi tekanan ada surat hutang Spanyol, negara yang sedang dilanda risiko gagal bayar.

Publik Eropa kadung menganggap sikap positif Draghi sebagai komentar 'legendaris' yang patut diingat dalam sejarah Euro. Namun ada pula yang menilainya biasa saja karena memang itulah yang harus dilakukan seorang pemimpin otoritas tinggi kawasan. "Momen itu berpengaruh besar tapi bukan suatu sentimen pengubah keadaan," tutur George Magnus, Penasihat Ekonomi Senior UBS, yang dikenal namanya karena berhasil meramalkan krisis perumahan 2008. Mario Draghi dipandangnya belum melakukan apapun karena begitu banyak tantangan yang harus dijawab dalam hal penyelesaian krisis Euro. Program pemulihan sektor perbankan misalnya, yang masih mandek dan rentan memicu masalah baru. Sementara Yunani belum keluar dari risiko bangkrut dan Portugal tetap membutuhkan bailout ke-dua. Beberapa analis memperkirakan keputusan Draghi untuk memberi ruang kepada pemerintah negara-negara bermasalah adalah sebuah bom waktu. "ECB terlalu lunak karena mempersilakan negara-negara itu mengabaikan program bailout yang sudah ditetapkan sebelumnya," tambah Magnus.

Untuk menjawab skeptisme pelaku pasar, Mario Draghi sesungguhnya punya amunisi simpanan yang bisa dipakai yakni skema 'Outright Monetary Transactions atau OMT. Sayangnya, pembuktian lebih lanjut urung terlaksana karena OMT belum sama sekali diuji kepada mereka yang membutuhkan. Terlebih lagi, praktiknya rentan terganjal oleh putusan Mahkamah Konstitusi Jerman, yang saat ini sedang mempelajari apakah program itu legal untuk diluncurkan.

Namun bagi investor di pasar finansial, cara untuk menilai kinerja pria Italia dalam dua tahun periode kepemimpinannya tidak terlalu rumit. Efektivitas kebijakan ECB bisa dinilai dari indikator perbaikan ekonomi zona Euro sejak suksesi kepemimpinan diemban oleh Super Mario. Usaha Kecil dan Menengah masih sulit untuk mengakses dana segar, angka pengangguran menembus level tinggi 12.2% di bulan Mei dan 19.3 juta orang masih memerlukan mata pencaharian. Bukan statistik yang bagus bagi curriculum vitae Senor Draghi.

"ECB tidak bisa memberlakukan quantitative easing (QE) dalam skala yang diterapkan The Fed, Bank of Japan dan Bank of England," tambah Magnus kepada CNBC. Bukannya tidak punya taring, namun ECB memang tidak punya akses seluas apa yang dimiliki oleh lembaga moneter negara lain. Artinya selain hanya dengan memberi pernyataan verbal, keterlibatan Draghi dan kolega dalam upaya perbaikan Eropa dibutuhkan melalui kebijakan nyata. Sekarang, OMT merupakan ajang pembuktian paling relevan untuk jangka pendek yang bisa memulihkan kepercayaan publik benua biru. Itu pun kalau mekanismenya tidak dijegal oleh hadangan politik negara-negara maju Eropa. Tahun 2014 akan menjadi momen penting apakah brankas OMT memang berguna dan komitmen Super Mario bukanlah lip service semata.

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar