Sabtu, 23 September 2017

market-outlook  Market Outlook

'Tanpa Dukungan Pemerintah, Sulit Berharap pada China'

Jumat, 14 Juni 2013 12:18 WIB
Dibaca 799

Monexnews - Iklim pertumbuhan China tahun 2013 diprediksi tidak akan sebaik periode-periode sebelumnya. Masa keemasan negeri tirai bambu sudah berakhir dan kini pemerintah dipaksa memutar otak untuk menjaga kinerja ekonomi supaya tidak terlalu lambat.

Banyak lembaga dan analis keuangan berbalik pesimis dalam menyikapi kinerja ekonomi negara ini. Bukannya membaik, perekonomian justru diprediksi lebih buruk di semester II. Lembaga keuangan Nomura memperkirakan gross domestic product (GDP) China berisiko terjun ke bawah 7% dalam enam bulan ke depan. Proyeksi itu mengacu pada indikator-indikator ekonomi domestik yang mengemuka dalam beberapa pekan terakhir.

Kombinasi antara likuiditas ketat dan kurangnya dukungan dari pembuat kebijakan adalah biang perlambatan ekonomi domestik. Kondisi diperburuk oleh penurunan volume permintaan produk dari luar negeri, yang berdampak langsung pada kelesuan sektor ekspor. "Semua (faktor) itu telah membuat masa depan pertumbuhan ekonomi terganggu," ujar Zhiwei Zhang, Kepala Ekonom China di Nomura. Atas dasar itu pula Nomura menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi menjadi 7.4% di kuartal III dan 7.2% untuk kuartal IV. Namun Nomura mengggarisbawahi adanya 30% peluang penurunan rasio pertumbuhan ke bawah 7%.

Pendanaan bisnis dari pemerintah terus berkurang dalam beberapa bulan terakhir. "Kami melihat pengetatan kebijakan di sektor perbankan telah menciptakan suatu masalah," tambah Zhang. Total dana pendanaan sosial, yang menjadi parameter likuiditas dalam sistem ekonomi, turun dari 2.5 triliun (Maret) menjadi 1.7 triliun Yuan (April) dan akhirnya tercatat di 1.2 triliun Yuan ($195 miliar) di bulan Mei. Artinya ketersediaan dana di pasar justru berkurang sehingga aktivitas bisnis warga menjadi stagnan. Terlebih lagi, pemerintah daerah makin sulit melanjutkan proyek-proyeknya karena bunga pinjaman bank melonjak tinggi. Pihak Beijing sendiri seakan santai dalam menyikapi tren perlambatan ekonomi dan bersikap toleran dalam menerima penurunan rasio pertumbuhan domestik. Nomura melihat kemungkinan yang sangat kecil bagi pemerintah untuk memperlonggar kebijakannya dalam waktu dekat via peluncuran stimulus.

Indikasi tersebut tampak pekan lalu saat Perdana Menteri Li Keqiang menyebut pertumbuhan ekonomi terkini 'cukup normal'. Meskipun data perdagangan China bulan Mei menunjukkan pertumbuhan ekspor hanya mencapai 1% dibandingkan setahun lalu, sedangkan angka impor merosot 0.3%. Musuh utama bagi lini ekspor tak lain adalah lesunya permintaan luar negeri, termasuk dari wilayah krisis seperti zona Euro. "Negara berkembang menghadapi risiko lebih besar jika the Fed akhirnya menghentikan stimulus moneter. Hal itu akan membuat arus modal keluar dari wilayah daratan China," imbuh Zhang.

Selama kuartal II, investor dicemaskan dengan prospek ekonomi China terutama saat data sektor manufaktur dan ekspor konsisten melemah. Fakta ini berujung pada penurunan reputasi China di mata lembaga-lembaga keuangan dunia. Perusahaan investasi terakhir yang memangkas target ekonomi tahunan China adalah Morgan Stanley, yakni menjadi 7.4% atau di bawah proyeksi versi pemerintah (7.5%).

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar