Rabu, 24 Mei 2017

market-outlook  Market Outlook

'The Fed Permainkan Psikologi Investor'

Kamis, 1 Agustus 2013 10:37 WIB
Dibaca 1429

Bank Sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve Bank kembali menekankan pentingnya pelonggaran moneter guna membantu percepatan laju ekonomi dalam negeri. Dalam pernyataan pasca pertemuan dua hari, Ben S. Bernanke dan kolega memastikan suku bunga akan tetap rendah sampai dewan gubernur menemukan fakta bahwa iklim bisnis dan daya beli konsumen benar-benar pulih.

Monexnews - The Fed berkomitmen untuk mempertahankan suku bunga rendah dekat level nol sampai waktu yang belum ditentukan. Program pembelian obligasi senilai $85 miliar per bulan juga tidak akan dicabut sampai adanya tanda-tanda perbaikan ekonomi yang konsisten. Terlepas dari bagusnya beberapa indikator ekonomi utama dalam beberapa bulan terakhir, bank sentral menganggap laju pemulihan 'sedang-sedang saja' walaupun lebih baik dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Namun sekali lagi, hal itu belum cukup untuk menghentikan kebijakan dana murah.

Sektor yang paling mungkin mempengaruhi kebijakan longgar the Fed tak lain adalah pasar tenaga kerja. Daya serap SDM sejauh ini memang cukup baik, namun rasio pengangguran masih dianggap terlalu tinggi bagi sebuah negara sekelas Amerika. Pelaku pasar keuangan dalam hampir sebulan terakhir sangat berhati-hati dalam pengambilan posisi karena muncul indikasi penghentian stimulus dalam waktu dekat. Setelah pernyataan resmi bank sentral beberapa saat lalu, bisa dipastikan bahwa nuansa yang sama masih akan menaungi lantai bursa untuk bulan-bulan selanjutnya, sampai skenario terminasi kebijakan cetak uang benar-benar terjadi.

The Fed terus mempermainkan psikologi investor dengan sikap ketidaktegasannya. Entah karena takut untuk memberi kepastian atau memang tidak punya pegangan pasti, Ben S. Bernanke masih juga mengutarakan statement yang sama bahwa "kebijakan suku bunga rendah dan stimulus sangat tergantung pada laju pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat". Kalaupun ada yang berubah dari pengumuman otoritas adalah pemakaian kata 'moderate' menjadi 'modest' dalam menilai trend ekonomi terkini. Secara harfiah Amerika-Inggris, kata modest mencerminkan sesuatu kondisi yang lebih baik ketimbang moderate. Dari situ bisa diartikan bahwa the Fed menilai situasi sekarang lebih maju dibandingkan pada saat pertemuan mereka terdahulu, di mana kata yang meluncur pada konferensi pers adalah 'moderate'. Kalau investor mau melihat sikap bank sentral dari pemakaian kata-kata ini, maka bisa saja disimpulkan kalau dewan gubernur sudah melihat adanya gejala kemajuan dalam beberapa sektor ekonomi, yang pada akhirnya mencapai konklusi bahwa periode penghentian stimulus sudah semakin dekat.

Namun bagi investor yang tidak terlalu ambil pusing dengan sinyal-sinyal yang sifatnya verbal, ada baiknya tetap berpegangan pada parameter yang bisa membuat skenario penarikan stimulus terbukti. Adapun tolok ukur yang dapat dijadikan acuan adalah data tenaga kerja dan inflasi, karena keduanya merupakan landasan kebijakan dana murah dalam setahun terakhir. Komite kebijakan sebelumnya sudah menyebutkan bahwa suku bunga acuan baru akan dikerek apabila rasio pengangguran turun ke level 6.5% dan inflasi meningkat ke level 2.5%. Target itu bisa dibilang masih sangat jauh dibandingkan rasio pengangguran dan inflasi terkini yang masing-masing bertengger di level 7.6% dan 1.8%. Level ideal untuk sektor tenaga kerja bahkan terbukti sulit dicapai dalam jangka pendek dan menengah meskipun data non-farm payrolls beberapa bulan terakhir terus positif.

Satu hal lagi yang bisa menjadi pegangan bagi investor dalam menyikapi dinamika stimulus adalah dinamika di tubuh bank sentral sendiri. Dalam pertemuan kemarin, mayoritas anggota dewan gubernur satu suara dalam proses penentuan suku bunga dan stimulus. Dari 12 anggota yang di-voting, hanya Esther George yang konsisten mengkhawatirkan efek formula moneter terhadap pencapaian inflasi dan keseimbangan neraca. Dari situ bisa dilihat bahwa sebagian besar anggota masih 'menyukai' kebijakan saat ini dan belum ingin stimulus dihentikan. Jika mengacu pada fakta-fakta tersebut, pelaku pasar (khususnya bursa saham) boleh berkesimpulan bahwa pelonggaran moneter belum akan berakhir.

Teka teki seputar cara pandang Federal Reserve memang mulai melelahkan. Entah berapa lama lagi pasar keuangan harus berlomba dalam menerka arah kebijakan selanjutnya. Sampai sinyal-sinyal lebih jelas terlihat, ada baiknya pengambilan keputusan investasi dilakukan dengan mengacu pada fakta-fakta ekonomi, salah satunya adalah dengan menyimak indikator maha-penting yakni rilis non-farm payrolls hari ini.

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar