Kamis, 30 Maret 2017

breaking-news GDP AS Q4 direvisi naik menjadi 2.1%, Klaim Penganguran turun menjadi 258K.

market-outlook  Market Outlook

Tinjauan Semester I : 'Tiga Aset Pemenang'

Rabu, 24 Juli 2013 11:37 WIB
Dibaca 566

Monexnews - Semester perdana tahun 2013 telah dilalui oleh pelaku pasar keuangan dunia. Sekali lagi, enam bulan pertama tahun ini merupakan salah satu periode berat bagi mereka yang menanamkan modalnya di berbagai bursa. Tidak sedikit orang mengalami kerugian besar sepanjang tahun ini, namun banyak pula yang mampu mengeruk keuntungan dari volatilitas harga. Berikut ini adalah urutan kinerja class assets sepanjang paruh pertama:

Pemenang:

1. Investor Saham

Pasar saham mencatat performa terbaik dibandingkan aset-aset keuangan lainnya. Kombinasi antara pemberlakuan suku bunga rendah di negara maju dan trend perbaikan ekonomi pasca krisis membuat minat beli portofolio efek meningkat drastis. Sebagai parameter saham dunia, indeks S&P 500 Amerika Serikat sukses memotori laju pertumbuhan harga saham global dengan total kenaikan 13.82%. Kebijakan stimulus besar-besaran oleh pemerintah juga turut mempengaruhi pergerakan saham-saham Jepang sejak akhir tahun lalu. Puncaknya, indeks Nikkei mampu mengukir rekor baru di level tinggi 15990 pada bulan Mei, sebagian besar terpicu oleh pelemahan nilai tukar Yen terhadap Dollar.

Bagi mereka yang telah mengoleksi banyak portofolio saham regional, khususnya Amerika Serikat dan Jepang, sekarang mungkin belum telat untuk mencairkan laba. Pasalnya, kondisi yang tercipta di pasar keuangan global belum tentu terulang dalam enam bulan ke depan. Suku bunga acuan dan suku bunga riil di beberapa negara sudah mulai naik dalam dua bulan terakhir sehingga rentan menurunkan minat investasi bisnis dan volume pinjaman usaha. Penyesuaian suku bunga akan terus dilakukan seiring dengan arus pemulihan dan meningkatnya tekanan inflasi. Jangan lupakan pula dukungan stimulus moneter yang selama ini mengayomi pelaku pasar. Bukan tidak mungkin siklus pelonggaran dihentikan oleh otoritas sebelum tahun 2013 berakhir, khususnya di Amerika Serikat.

2. Investor Perbankan

Pihak perbankan dan investor kelas kakap yang menginvestasikan dananya di sana, saat ini sedang menantikan momen-momen 'balik modal' (bagi mereka yang belum mencatat BEP). Iklim pasar kredit dan trend kenaikan harga rumah menjadi variabel yang sangat mendukung operasional perbankan. Jika berbicara soal kredit perumahan maka kiblatnya tentu ke Amerika, karena negara ini adalah parameter kebangkitan pasar hunian pasca krisis 2008. Tingkat pinjaman untuk perumahan akhirnya pulih dari fase pelemahan panjang dan konsisten meningkat sepanjang semester I. Efeknya bisa ditebak, volume kredit rumah langsung melonjak ke level tertinggi dalam hampir dua bulan terakhir. Namun adapun fenomena yang unik kali ini yaitu kenaikan jumlah pinjaman kredit tidak dibarengi dengan kenaikan bunga tabungan, simpanan pasar uang dan deposito lainnya yang selama ini menjadi beban bagi bank untuk dibayarkan kepada pihak nasabah. Alhasil, bank-bank menarik keuntungan besar dari pungutan bunga kredit perumahan namun mereka tidak harus membayar bunga lebih kepada nasabah yang menjadi sumber pendanaan. Pemberlakuan iklim suku bunga rendah oleh bank sentral benar-benar menguntungkan bagi pelaku perbankan.

3. Investor Minyak Mentah

Pergerakan harga komoditi minyak mentah memang tidak terlalu spektakuler tahun ini, 'hanya' naik tidak sampai 6% sejak bulan Januari silam. Meski solid, rasio peningkatan tersebut kurang impresif jika dibandingkan dengan dua aset di atas. Namun patut dicatat bahwa prospek harga minyak justru lebih cerah ketimbang aset manapun di masa depan. Terdapat beberapa alasan mengapa minyak akan menguat lagi atau paling tidak mempertahankan posisinya saat di atas $100 per barel. Ketegangan politik di berbagai wilayah produksi semakin intensif dalam beberapa bulan terakhir. Setelah Irak dan Libya, transisi kepemimpinan juga terjadi di Mesir, yang merupakan jalur penting distribusi minyak dunia. Ditambah dengan belum rampungnya 'perang dingin' antara Iran dan blok barat. Jika digabungkan dengan buruknya prospek persediaan dari wilayah Afrika, seperti Nigeria dan Sudan, maka lengkap sudah dukungan fundamental bagi produk minyak mentah. Padahal di sisi lain, tingkat permintaan diyakini terus meningkat tahun ini karena banyak negara sedang menata kembali kebijakan ekonomi berbasis pertumbuhan. Membaiknya kinerja perusahaan akan berdampak pada lonjakan volume permintaan minyak di masa yang akan datang. Seandainya sampai terjadi instabilitas antara tingkat persediaan dan arus permintaan, bukan tidak mungkin level $110 per barel tercapai dengan mudah dalam waktu singkat.

*Kontrak minyak saat ini terpantau di level $107.07 per barel.

 (dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar