Market Outlook

'Transisi Ekonomi Tirai Bambu'

Rabu, 4 Juli 2012 10:40 WIB
Dibaca 528

Monexnews - Banyak orang menilai perekonomian China sudah mencapai 'peak performance'-nya tahun lalu. Padahal sesungguhnya negeri tirai bambu justru baru memulai lembaran baru.

Sepanjang tahun ini, pertumbuhan China memang kurang menggembirakan. Ekonomi negara ini diperkirakan melambat dari 9,2% (2011) dan 10,4% (2010) menjadi 'hanya' 8% pada akhir 2012 nanti. Namun demikian, penurunan kinerja seperti ini belum bisa disebut sebagai 'hard landing' terutama jika dibandingkan dengan proyeksi perlambatan ekonomi Amerika Serikat (AS) yang mencapai 2-3%.

Negara komunis ini masih berpotensi mencatat pertumbuhan tahun depan asalkan pintar menentukan orientasi ekonomi. Selama lima tahun terakhir, denyut ekonomi sangat ditentukan oleh sektor ekspor yang didominasi permintaan dari kawasan Eropa dan Amerika Serikat (AS). Sekarang tren seperti itu sulit untuk diulangi jika mempertimbangkan kondisi krisis dan penurunan daya beli konsumen dari kedua wilayah itu. Agar tetap bisa melaba dari sektor industri dan produksi, China harus mengeluarkan kebijakan akomodatif untuk mendukung permintaan domestik. Daya beli masyarakat China sudah jauh lebih tinggi dibanding beberapa tahun lalu. Perusahaan asal AS kini bahkan berbalik membidik pangsa pasar pada golongan ekonomi menengah China. Salah satu sektor ekonomi AS yang diuntungkan oleh tingginya minat beli masyarakat China adalah makanan cepat saji. Sebagai catatan, hampir 45% angka penjualan YUM Brands (NYSE:YUM) saat ini berasal dari negara China, melalui dua produk fast-food andalannya, KFC dan Pizza Hut.

Rapor pendapatan YUM membuat korporasi sejenis tergoda memperluas cengkeramannya di wilayah China. Starbucks (SBUX) misalnya, yang tengah membidik penghasilan tiga kali lipat di China pada 2015 mendatang. Coca-Cola (KO) berencana menanamkan modal $4 miliar dalam tiga tahun ke depan. Sementara dari sektor otomotif, General Motors mulai melirik pengembangan mobil listrik dengan menggandeng perusahaan lokal, SAIC.

Pelaku sektor keuangan seakan tidak mau ketinggalan berekspansi di negara dengan nilai kapitalisasi terbesar Asia. Beberapa lembaga finansial berani menerbitkan instrumen hutang berdenominasi yuan guna menarik minat investor. Produk exchange-traded-fund (ETF) berbasis Amerika sudah bisa ditemui di bursa Hong Kong. Investor China kini dapat mengoleksi portofolio hutang seperti Ford (F) maupun Caterpillar (CAT) dengan uang yuan yang mereka miliki.

Antusiasme konsumen domestik China terhadap produk konsumsi dan investasi memang tengah tinggi. Booming ekonomi dan properti setengah dasawarsa terakhir telah menaikkan taraf hidup masyarakat. Selama pemerintah Beijing jeli dalam merancang kebijakan, efek dari krisis ekonomi di Eropa dan Amerika akan bisa diimbangi oleh tingginya permintaan dari dalam negeri.

 

(dim)

Lihat Disclaimer

Kirim Komentar Anda



Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar