Minggu, 23 Juli 2017

market-outlook  Market Outlook

'Ukraina Bukan Anak Bawang'

Selasa, 4 Maret 2014 11:20 WIB
Dibaca 1032

Monexnews - Krisis Ukraina menimbulkan riak-riak ketegangan baru dalam sistem hubungan internasional. Walaupun kerap dilihat 'kurang penting, toh' efek konflik di negara ini juga berpengaruh besar terhadap stabilitas pasar keuangan dan sentimen ekonomi dunia. Apabila ditilik secara lebih mendalam, akan terlihat suatu fakta unik yang bisa mewakili opini bahwa Ukraina bukanlah 'anak bawang'. 

Senior Editor CNN, Geoff Colvin, dalam analisanya menyebut Ukraina sebagai negara yang memiliki potensi besar. Itulah mengapa Rusia selalu mem-backing kepentingannya, termasuk soal pendanaan dan bantuan ekonomi. Banyak orang masih memandang Ukraina sebagai anak bawang dalam rantai perekonomian dunia. Perannya memang kecil sekarang, tapi bisa sangat berbeda dalam satu dekade ke depan.

Mengapa dunia internasional harus khawatir dengan perkembangan yang terjadi di Ukraina? Cukup satu kata: 'pangan'. Ukraina sejak dahulu dikenal memiliki tanah yang subur dan mampu menjadi negara swasembada gandum. Bagi negara-negara barat, peran gandum serupa dengan beras bagi masyarakat Asia. Komoditi pertanian ini adalah bahan utama pembuatan roti, yang menjadi makanan pokok warga Amerika dan Eropa. Bagi Ukraina, gandum adalah emas karena masyarakatnya tidak memiliki sumber daya lain untuk dibanggakan seperti negara induknya, Uni Soviet.

Di era modernisasi seperti sekarang, peran bahan pangan sangatlah besar. Penurunan produksi pangan bahkan telah menjadi isu internasional yang diamati serius oleh pemerintah negara maju dan berkembang. Peningkatan jumlah populasi yang pesat gagal diimbangi oleh perluasan lahan pertanian produk komoditi. Ketidakseimbangan ini niscaya akan berujung pada krisis pangan dan lonjakan harga kebutuhan sehari-hari.

Untuk urusan pangan, Ukraina tidak perlu khawatir. Jumlah produksi gandum mereka selalu melampaui tingkat kebutuhan penduduk sehingga pemerintahnya masih bisa mengekspor produk buminya itu ke negara lain. Begitu pentingnya kebutuhan pangan, sampai-sampai China pernah merayu negara ini untuk menyewakan 5% luas tanahnya dengan durasi kontrak 50 tahun! Lahan seluas 7.4 juta hektar atau seukuran negara Belgia tersebut rencananya akan ditanami bahan pangan, khususnya gandum, hanya untuk konsumsi warga China. Negeri tirai bambu memang membutuhkan sumber pangan yang besar mengingat untuk saat ini saja, konsumsi makanan mereka sudah mencapai 20% dari total konsumsi pangan dunia. Mereka membutuhkan bahan roti, sangat membutuhkannya. Bahkan kantor berita resmi pemerintah China pernah membahas tentang status 'keamanan gandum nasional' dalam pemberitaannya beberapa waktu lalu.

Sejauh ini, negara yang paling diuntungkan oleh potensi sumber daya Ukraina adalah Rusia. Sebagai sekutu akrab, Rusia selalu menyokong kebutuhan materil dan kepentingan politik Ukraina meskipun negara itu bukan lagi menjadi bagian Soviet. Presiden Vladimir Putin menyadari benar kalau Rusia bukan satu-satunya pihak yang menginginkan servis Ukraina. Oleh karena itu, tidak heran jika ia sampai rela memobilisasi pasukan militer dan menantang Amerika Serikat dalam upaya diplomasi mempertahankan independensi politik negara tetangganya. Isu ini akan berkembang terus dalam beberapa pekan ke depan. Dan pastinya, tidak akan ada negara yang mau berkomentar soal potensi pangan Ukraina. Setiap kepala negara akan bersikap seakan-akan negara ini tidak punya apa-apa. Padahal di balik itu, semua mata membidik kekayaan sumber daya taninya.

 

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar