Sabtu, 21 Januari 2017

breaking-news Penjualan Ritel Inggris turun -1.9% di Desember vs. 0.2% di November, ekspektasi -0.1%.

market-outlook  Market Outlook

Wall Street 'Move On' dari Tekanan Siprus

Kamis, 28 Maret 2013 11:35 WIB
Dibaca 744

Monexnews - Mayoritas indeks saham utama dunia mencatat performa cemerlang sejak awal tahun ini. Masalah perbankan Siprus memang sempat menghambat manuver bursa, namun pengaruhnya tidak akan mengurangi rapor pasar ekuitas di kuartal perdana. 

Bank Siprus hari ini dijadwalkan aktif kembali setelah tutup selama hampir dua pekan. Investor menunggu perkembangan terbaru soal transaksi perbankan nasabah di negara itu dan efeknya terhadap sistem perbankan kawasan. Pihak pemerintah sudah menentukan kebijakan kontrol likuiditas, supaya bank-bank tidak kekurangan dana. Jika mengacu pada kinerja bursa ekuitas di tengah gejolak kabar Siprus, bisa disimpulkan bahwa pelaku pasar tidak memperlihatkan kekhawatiran seperti ketika Yunani dan Italia mengalami masalah serupa satu hingga dua tahun silam. Mengingat krisis Siprus 'hanya' terpusat pada sektor perbankan dan mekanisme bailout tidak sepelik negara pesakitan sebelumnya. Kebijakan pajak simpanan nasabah juga dianggap sebagai solusi yang tegas dan patut dijadikan shock therapy bagi anggota-anggota Euro lain. Dalam hal ini, koordinasi antara Nicosia dan Uni Eropa untuk menanggulangi problem bank terbilang positif.

Pasar saham Amerika Serikat belum menunjukkan gejala penurunan tajam meski sudah mencatat kenaikan besar. Dow Jones berada dalam jalur yang tepat untuk membukukan kinerja kuartalan terbaik dalam 15 tahun terakhir. Indeks acuan Amerika ini sudah sukses mengoleksi penguatan sekitar 10,9% sejak bulan Januari. Rasio kenaikan hanya sedikit di bawah gain kuartalan sebesar 11,3%, yang diraih pada tahun 1998. S&P 500 juga tinggal menunggu waktu untuk menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa dengan selisih 3 poin saja. Sejak awal tahun, indeks ini telah sukses meraup kenaikan 9,6% atau lebih tinggi dibanding penguatan Nasdaq yang sebesar 7,9%.

"Pasar keuangan akan move on karena krisis Siprus tidak memaksa Bank Sentral Eropa untuk mengambil kebijakan luar biasa," urai Steve Masocca, Ekonom dan Analis Wedbush Securities. Masih menurutnya, situasi akan jauh berbeda jika yang mengalami masalah adalah negara Spanyol atau Italia. Masocca menilai penguatan saham Amerika beberapa bulan terakhir merupakan siklus tahunan yang kerap terjadi sebelum bulan Mei. Pergerakan saham akan lebih berat memasuki pertengahan tahun atau jelang musim panas di wilayah Amerika dan Eropa.

Efek negatif dari krisis perbankan Siprus sejauh ini tidak mampu mengalahkan sentimen fundamental ekonomi yang impresif. Kombinasi apik antara stimulus Federal Reserve dan laporan tenaga kerja telah membangkitkan minat investasi pada produk saham. Apabila mengacu pada parameter yang dipakai bank sentral untuk menentukan periode stimulus, kebijakan cetak uang kemungkinan masih akan bertahan lama. Beberapa saat lalu, anggota dewan The Fed Charles Evans menyatakan pihaknya ingin melihat pertumbuhan jumlah tenaga kerja sebanyak 200.000 setiap bulan selama satu semester penuh, sebelum mengubah skema program quantitative easing. Sampai kondisi ideal itu tercapai, program pembelian surat hutang perumahan dan obligasi senilai $85 miliar per bulan tidak akan dicabut.

Wall Street menutup sesi perdagangan hari Rabu (27/03) dengan catatan beragam. Dow Jones turun sebanyak 0,2% untuk mengakhiri hari di level 14,526.16. Sementara S&P 500 anjlok tipis ke 1,562.85 dan Nasdaq naik 0,12% ke level 3,256.52.

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar