Market Outlook

Wall Street Pekan Ini: Tetap Tenang dan Terkendali

Senin, 9 April 2012 13:43 WIB
Dibaca 633

Monexnews - Wall Street mencatat persentase koreksi mingguan terbesar dalam tahun ini. Indikasi akan dimulainya trend bearish saham Amerika Serikat (AS)?

Indeks Dow Jones Industrial Average anjlok 1,15% sepanjang pekan lalu. Sementara S&P 500 juga minus 0,7% dan Nasdaq merugi 0,3%. Jika dilihat dari periode perdagangan yang pendek karena hari libur, cukup beralasan jika indeks utama gagal memulihkan diri pekan lalu.


Walaupun demikian, bursa AS masih mencetak kenaikan sepanjang 2012. Koreksi mingguan terakhir memang cukup signifikan, namun momennya terjadi setelah indeks utama mengukir kenaikan kuartalan terbesar dalam 1 dekade terakhir. Rilis data tenaga kerja Jumat kemarin menunjukkan pelaku usaha dalam negeri gagal menyerap tenaga kerja di atas harapan selama bulan Maret. Saat data dipublikasikan, pasar reguler memang tutup memperingati 'Good Friday', tetapi futures saham langsung anjlok pasca laporan payrolls. Artinya, kinerja serupa kemungkinan besar melanda bursa New York nanti malam.

Perlambatan daya serap tenaga kerja di Amerika kembali membuka harapan akan adanya Quantitative Easing (QE) baru. Ekspektasi pelonggaran moneter sempat memudar setelah dewan gubernur menutup wacana itu pada pertemuan minutes awal April. Dengan rilis laporan tenaga kerja yang negatif, maka rumor QE bisa didengungkan lagi sehingga sentimen di pasar makin seru.

Fokus Pekan Ini

Pekan ke-dua bulan April dibuka oleh pidato Ben S. Bernanke hari Senin (09/04). Dua hari berselang (Rabu 11.04), the Fed merilis Beige Book, atau rangkuman kondisi ekonomi di masing-masing wilayah bank sentral regional AS.

Musim laporan pendapatan (earnings) turut mewarnai lantai bursa pekan ini. Produsen alumunium raksasa, Alcoa (NYSE:AA), memulai musim pendapatan emiten pada hari Selasa (10/04). Perseroan diprediksi mencatat kerugian 4 sen per saham di kuartal pertama, atau turun dibanding keuntungan 28 sen yang dicetak pada periode yang sama tahun lalu (survei Thomson Reuters). Jawara mesin pencari, Google Inc (GOOG), melepas data pendapatannya dua hari kemudian (Kamis 12/04), disusul oleh JPMorgan (JPM) di akhir pekan (Jumat 13/04).  

Secara keseluruhan, rata-rata pendapatan emiten S&P 500 selama kuartal I diperkirakan naik kurang dari 1% (riset S&P Capital IQ). Jika terbukti, maka rasio kenaikan triwulan lalu turun drastis dibanding perolehan rata-rata korporasi pada triwulan IV 2011, yang mencapai lebih dari 10%.  

Beralih ke luar negeri, data makroekonomi yang patut diamati adalah laporan Produk Domestik Bruto (GDP) China. GDP tahunan diprediksi tumbuh sebesar 8,1% di kuartal I 2012 atau lebih kecil ketimbang pertumbuhan kuartal IV 2011 yang sebesar 8,9% (analisa Societe Generale). Pemerintah negara itu diyakini masih berhati-hati dalam menjalankan kebijakan, khususnya dalam merilis pelonggaran moneter baru, di tengah minimnya data pendukung.

Bank of Japan juga akan menggelar pertemuan suku bunga rutin hari Selasa. Suku bunga acuan belum akan bergeser dari level 1%, namun patut dittunggu kemunculan sinyal kebijakan baru dari Tokyo (jika memang ada).

Kembali ke Amerika, data utama yang siap dilepas adalah laporan inflasi konsumen dan produsen. Disusul kemudian oleh wholesale inventories terbaru, harga ekspor serta neraca perdagangan dan sentimen konsumen.

Bagaimana dengan Eropa? Eskalasi kecemasan dipastikan memudar sepanjang 1 bulan terakhir pasca iklim kondusif di Yunani. Sekarang negara yang layak dicermati adalah Spanyol, yang imbal hasil obligasinya melonjak pekan lalu. Italia akan menjual surat hutang dan obligasi pada hari Kamis mendatang, sementara Jerman siap melelang obligasi tenor 10 tahun senilai 5 miliar euro di hari rabu. Sebagian besar pasar saham baru memulai pekan di hari Selasa karena masih memperingati hari raya Senin ini.

 

 (dim)

Lihat Disclaimer

Kirim Komentar Anda



Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar