Market Outlook

'Wall Street Tidak Butuh Stimulus'

Selasa, 28 Agustus 2012 10:50 WIB
Dibaca 709

Monexnews - Wall Street sudah kuat tanpa sokongan stimulus baru. 

Wall Street mengawali pekan dengan koreksi karena investor bersikap pasif. Indeks Nasdaq memang masih mampu menguat 0.1% pada sesi perdagangan Senin (27/08). Namun Dow Jones Industrial Average merugi 0.3% dan S&P 500 turun 0.1% di tengah minimnya volume transaksi jual beli. Analis di New York memang sudah memperkirakan munculnya tren pelemahan, yang masih akan terjadi hingga akhir pekan ini.

Akhir pekan memang menjadi momen penting karena pada saat itulah Gubernur Federal Reserve, Ben S. Bernanke berbicara di forum tahunan, Jackson Hole. Investor sangat menantikan apakah rencana pelonggaran kuantitatif terlontar dari bibirnya, khususnya setelah hasil pertemuan rutin the Fed pekan lalu. Tidak hanya itu, Mario Draghi juga akan tampil dalam forum bank sentral tersebut untuk memberikan proyeksinya terhadap kebijakan ECB yang akan datang.

Meski diyakini berdampak bagus terhadap kinerja pasar keuangan, responden yang disurvei CNN justru tidak berharap kemunculan Quantitative Easing 3 (QE3). Sebanyak 93% ahli investasi merasa the Fed tidak perlu menggelontorkan stimulus anyar pada pertemuan berikutnya. Sementara sebanyak 77% ekonom yang juga disertakan dalam survei bersikap sama. Kebanyakan dari mereka menilai QE memang baik untuk pasar saham namun dampaknya sangat minim terhadap perekonomian nasional. "Sudah waktunya kita menjalani proses pemulihan secara normal (tanpa stimulus)," ujar Doug Cote, Chief Market Strategist ING Investment Management. Komentar senada diungkapkan oleh Ekonom Senior Wells Fargo, Sam Bullard. "Hasilnya tidak akan berbeda jauh dengan pelonggaran terdahulu," tuturnya. Pelonggaran yang dimaksud Bullard adalah pemberlakuan suku bunga rendah sejak 2008 yang disusul dengan pembelian obligasi secara masif oleh bank sentral sebanyak dua kali.

Di samping itu, bursa saham sesungguhnya tidak benar-benar haus sentimen baru saat ini. Kebijakan suku bunga rendah the Fed dan pelonggaran moneter secara umum sudah sesuai jalurnya. Pelonggaran tambahan hanya akan menjadi sia-sia tanpa perencanaan untuk jangka panjang. Untuk tahun ini saja, indeks S&P 500 sudah mencatat kenaikan 11%. Jadi, peluncuran QE justru bisa menjadi bumerang di masa depan bagi pasar ekuitas. Salah satu imbasnya adalah kenaikan harga minyak mentah dunia ke atas $100, yang serta merta turut mengangkat harga bahan bakar minyak ke atas $4 per galon di Amerika. Lonjakan harga minyak lazimnya disusul oleh kenaikan harga barang, bahan pangan dan inflasi. Belum lagi tambahan beban operasional yang harus ditanggung oleh produsen akibat kenaikan tersebut. Bisa jadi stimulus berpotensi menguras pendapatan sebagian besar emiten sehingga kinerja Wall Street kembali ternoda.

(dim)

Lihat Disclaimer

Kirim Komentar Anda



Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar