Rabu, 18 Januari 2017

breaking-news PM Inggris Theresa May: Pemerintah Akan Ajukan Kesepakatan Brexit Baru Untuk Voting Parlemen

market-outlook Market Outlook

'Yunani Belum Tentu Terselamatkan'

Jumat, 9 Agustus 2013 9:47 WIB
Dibaca 722

Monexnews - Trend pemulihan ekonomi di Eropa berlangsung sesuai harapan. Beberapa indikator penting zona Euro menunjukkan perbaikan berarti, setidaknya dalam satu kuartal terakhir. Namun tidak demikian halnya di Yunani, negara dengan krisis paling parah di benua biru. Iklim pemangkasan anggaran di Athena justru membuat segala sendi perekonomian tersendat di berbagai sektor.

Setelah resmi masuk dalam fase resesi, tingkat pengangguran di Yunani melonjak sampai 27.6% (data Mei) sekaligus menandai rekokr tertinggi dalam sejarah modern. Hanya dalam satu bulan, rasio warga tanpa pekerjaan bertambah lebih dari setengah persen dari 27% di bulan April. Kekhawatiran terbesar mengerucut pada tingginya jumlah warga usia muda (15-25 tahun) yang belum mempunyai mata pencaharian tetap, rasionya mencapai 65%. Angka perhitungan sudah termasuk kalkulasi daya serap SDM di saat musim liburan, di mana Yunani adalah salah satu destinasi wisata paling laris di Eropa.

Sementara jumlah warga yang kehilangan pekerjaan sudah naik nyaris 200.000 menjadi total 1.38 juta jiwa dalam 12 bulan terakhir. Jika ditotal selama 5 tahun belakangan, eskalasi krisis telah menyebabkan 1 juta orang masuk dalam kategori pengangguran.

Yunani telah mengalami perlambatan ekonomi sejak 2010, pasca dipaksa meraup pinjaman senilai total 240 miliar Euro dari Uni Eropa dan Dana Moneter Internasional (IMF). Konsekuensi dari pengucuran dana itu sangat 'kejam'. Pemerintah diinstruksikan untuk menuruti kemauan otoritas kreditur seperti perintah pemangkasan anggaran untuk kepentingan rakyat dan belanja keperluan ekonomi nasional. Hasilnya, volume gross domestic product (GDP) Yunani menciut sekitar 30% sejak tahun 2008 silam.

Setitik harapan untuk menghimpun dana segar menyeruak setelah Uni Eropa memperbolehkan pemerintah untuk memotong pajak produk makanan dan minuman di restoran dari 13% menjadi 23%. Tax break itu memang diyakini mampu meningkatkan pemasukan pelaku bisnis dan masyarakat dari sektor konsumsi dan wisata, namun di sisi lain pemasukan negara akan menyusut sekitar 100 juta Euro untuk jangka pendek. Sekali lagi, Yunani tidak diberi pilihan untuk 'menang' dalam penentuan kebijakan fiskalnya.

Efek pengucuran stimulus terbukti tidak mampu menggenjot pos penghasilan negara dalam dua tahun terakhir. IMF bahkan memprediksi Yunani masih akan kekurangan dana sampai 11 miliar Euro dalam dua tahun ke depan karena beban cicilan hutang mereka lebih besar ketimbang pendapatan ekonominya. Jika skenario itu benar-benar terwujud, maka terbuka kemungkinan bagi negara-negara Eropa untuk berkorban lagi, dengan cara mengumpulkan uang bantuan ekstra atau 'debt relief' demi penyelamatan negeri dewa dewi. Suatu hal yang tidak populer, terutama bagi warga negara dan partai oposisi di Jerman.

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar