Minggu, 23 Juli 2017

stock-index  Stock Index

Bursa Asia Variatif Pasca Data China & BOK

Kamis, 9 Mei 2013 12:09 WIB
Dibaca 545

Monexnews - Secara umum lantai bursa Asia hari ini (Kamis, 9/5) menguat secara variatif karena para investor nampak masih bersemanagt untuk masuk pasar seiring data-data ekonomi global yang mulai membaik serta berkat Wall Street yang kembali berkeliaran di area kisaran rekor tertingginya semalam.    

Di pasar Asia, nampak lantai bursa Kospi – Korsel unggul hari ini setelah Bank Sentral Korea (Bank of Korea/BOK) akhirnya menurunkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin menjadi 2,5% dari sebelumnya di level 2.75%. Pemangkasan bunga tersebut dilakukan setelah suku bunga telah bertahan selama enam bulan berturut-turut sejak Oktober silam. Indeks saham Korea terpantau langsung menguat setelah keputusan suku bunga tersebut, dan indeks utama Kospi langsung naik lebih dari 1.2% ke atas kisaran 1980-an. Sedangkan Kospi futures juga menguat hingga +3.65 poin di area 258.80.

Sedangkan indeks Nikkei – Jepang kembali melanjutkan rally di perdagangan hari Kamis lantaran para investor kembali tersemangati oleh sejumlah indeks saham Amerika Serikat (AS) yang kembali di tutup pada rekor tinggi. Nampak saham Toyota Motor Corp. melambung tinggi setelah raksasa otomotif tersebut merilis laba pendapatan kuartalan hingga dua kali lipat. Saham Toyota sendiri melesat hingga lebih dari 1.8%, sementara Fanuc Corp. rebound 2.2% dan Casio Computer Co. rally 2.4%. Namun saham Toshiba Corp. justru anjlok 1.6% setelah pertumbuhan profit-nya jatuh di bawah ekspektasi.

Indeks utama Nikkei sendiri tercatat menguat 0.5% ke area 14,354.51, setelah megakhiri sesi Rabu kemarin pada level tertingginya sejak Juni 2008. Sedangkan indeks Nikkei futures tercatat menguat +60 poin ke area kisaran 14320. Namun demikian rally indeks Nikkei akhinrya terbatasi oleh penguatan yen hari ini yang sempat mencapai 98.66 terhadap dollar AS.

Sementara indeks bursa Hang Seng hari ini akhirnya terkoreksi setelah di rilisnya data inflasi China bulan April yang mengalami kenaikkan terutama karena digerakkan oleh harga pangan. Angka CPI China bulan April naik sebesar 2,4% dari bulan Maret tahun sebelumnya di angka 2,1%. Dan rilis tersebut juga sedikit di atas perkiraan survei Reuters yang memprediksi 2.3%. Namun indeks harga produsen China (PPI), justru mencatat penurunan terbesar sejak Oktober lalu, dengan merosot hingga -2,6% dibanding penurunan -1,9% pada bulan Maret. Baik Reuters maupun Dow Jones Newswires memprediksi -2,3%.

Pasar menilai rilis angka tersebut dikhawatirkan cenderung akan mengurangi kemungkinan Beijing mempertahankan kebijakan moneter yang longgar. Sementara angka CPI yang masih berada di bawah target pemerintah tahun ini, ditambah angka PPI yang kian merosot, mencerminkan perekonomian negeri tirai bambu tersebut sedang melambat.(dar)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar