Kamis, 23 Maret 2017

world-economy  World Economy

Adu kuat Putin-Obama di Forum G20

Kamis, 5 September 2013 10:55 WIB
Dibaca 1144

Monexnews - Pemimpin 20 negara perekonomian terbesar dunia dijadwalkan berkumpul di St. Petersburg, Rusia guna menghadiri forum akbar G20. Penyelenggaraan event multilateral ini dalam cita-cita awalnya dibangun sebagai wadah komunikasi bagi presiden dan perdana menteri dalam upaya melekatkan kerjasama internasional. Namun untuk pagelaran G20 tahun 2013, tensi diskusi diperkirakan jauh lebih panas dibandingkan sebelumnya karena fokus pembahasan terkait erat dengan isu perang.

Konflik Syria dipastikan akan menjadi salah satu materi pembahasan dalam forum G20 di Rusia. Kubu-kubu yang biasanya damai ketika membahas soal kerjasama ekonomi kini diprediksi berseberangan karena perbedaan kepentingan. Isu yang membelah opini negara-negara maju tak lain adalah wacana penyerangan Amerika ke Syria untuk memberangus rejim Bashar al-Assad. Sebagai sekutu Damaskus, Rusia menentang keras intervensi Washington dalam perang saudara di Timur Tengah. Presiden Vladimir Putin bahkan sudah siap melepas perisai rudalnya untuk membendung agresi militer Amerika.

G20 semestinya dirancang untuk mengakomodasi kepentingan ekonomi dan pertumbuhan dunia. Tetapi eskalasi konflik Syria yang memuncak mau tidak mau harus diberikan porsi lebih karena berpotensi memberi efek negatif pada stabilitas keamanan global. Gedung Putih sudah secara tegas mengutarakan rencana agresi ke Syria dengan alasan kemanusiaan. Dugaan pemakaian senjata kimia oleh militer al-Assad diklaim sebagai pelanggaran hukum perang secara telanjang dan patut dihentikan. Presiden Barack Obama sedang menggalang dukungan dari kongres dan kolega politik sebelum meluncurkan rudalnya ke target-target strategis di Damaskus. Walaupun restu tertulis belum didapatnya, kemungkinan besar pihak legislatif akan menyetujui keinginan sang presiden dalam voting pekan depan. Artinya, memori perang Irak segera terulang kembali di region yang sama namun beda negara, Syria.

Celakanya, niat mobilisasi militer Amerika mendapat penolakan keras dari sekutu Syria, yakni pihak tuan rumah G20, Rusia. Kekuatan negara emerging lainnya seperti China, belum secara implisit memberikan sikapnya, namun Jepang sudah menyatakan sikap pro ke Amerika. Perang statement antara Vladimir Putin dan Barack Obama terus mengemuka dalam beberapa hari terakhir. Obama mengklaim Amerika hanya berusaha menjaga stabilitas dunia dan tidak menganggap perang sebagai opsi utama menuju perdamaian. "Seluruh dunia sepakat menentang penggunaan senjata kimia oleh pihak manapun. Saya tidak mengarang cerita soal apa yang terjadi di sana (Syria) karena itu sama saja dengan mempertaruhkan kredibilitas saya," ujar Barack Obama pada suatu kesempatan wawancara di Swedia.

Sementara di tempat terpisah, Vladimir Putin lebih berhati-hati dalam mengeluarkan komentar walaupun makna di baliknya juga tidak kalah keras. "Kami tentu punya rencana untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan di masa depan, tapi saya belum bisa mengatakan itu," ujarnya. Walaupun tidak terang-terangan, Putin mengatakan pihaknya siap memperbarui kontrak pengiriman misil udara S-300 dengan pihak Syria. Sistem senjata yang disebut 'sangat efisien' oleh Putin ini merupakan hasil proyek pertahanan Rusia yang juga dirancang untuk perlindungan negara-negara sekutunya. Selain mengaktifkan lagi pengiriman misil ke Syria, pemerintah Rusia juga tidak menutup kemungkinan kerjasama baru dengan Iran. Beberapa tahun lalu Rusia dikenal sebagai pemasok senjata ke Teheran, sebelum kontrak akhirnya kontrak kerja kedua negara diputus sepihak oleh Rusia karena tekanan Israel dan Amerika.

Selain menggenggam dukungan lisan dari pihak senat dan kongres terkait rencana agresi Syria, Presiden Obama datang ke St.Petersburg dengan raihan support dari pemerintah Prancis dan Jepang. Perdana Menteri Inggris, David Cameron, juga menyatakan dukungannya tetapi sikap formal London masih harus menunggu hasil voting parlemen. Sebagai panglima ekonomi politik zona Euro, suara Jerman diprediksi lebih condong ke Amerika karena secara ideologi dan kepentingan, kedua negara memiliki visi yang simbiotik.

Gedung Putih mengklaim sebanyak 1.429 orang meninggal dalam aksi serangan gas beracun pada tanggal 21 Agustus lalu. Organisasi Syrian Observatory for Human Rights telah mengumpulkan data-data dari kelompok aktivis di Syria dan menyatakan jumlah korban jiwa bertambah sampai 500 orang lebih. Tim inspeksi PBB tengah meneliti hasil laboratorium dari sampel tisu dan tanah di lokasi kejadian. Konon konklusi jelasnya baru bisa didapat dalam dua pekan ke depan, kemudian baru bisa digunakan oleh Dewan Keamanan untuk menentukan arah dukungannya.

Hasil adu argumentasi antara Vladimir Putin dan Barack Obama akan sangat menentukan kondisi ekonomi dan prospek pasar keuangan dunia. Apabila tidak ada titik temu dan perang tidak bisa dihindari, maka minat investasi terhadap aset berisiko seperti saham dan valuta diyakini kendur lagi. Produk safe-haven seperti emas dan Dollar biasanya menguat di tengah gejolak geopolitik, sementara minyak mentah juga bersiap naik karena ditopang oleh potensi penurunan suplai dari negara produsen. 

 

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar