Sabtu, 21 Oktober 2017

world-economy  World Economy

Amerika, Primadona Baru Bisnis Migas Dunia

Kamis, 9 Mei 2013 11:24 WIB
Dibaca 564

Monexnews - Amerika Serikat benar-benar serius menjajaki peluang di industri pertambangan dan energi. Program presiden Barack Obama dalam hal ketahanan sumber daya mulai memperlihatkan hasilnya. Dalam satu tahun terakhir, banyak perusahaan lokal maupun internasional mengalihkan target eksplorasi dari Timur Tengah ke Amerika Serikat sekaligus menanamkan modal dalam jumlah besar.

Transisi pertambangan minyak dimulai tahun lalu saat ConocoPhillips memutuskan untuk menjual sahamnya di lahan Kashagan, Kazakhstan senilai $5 miliar. Proyek energi terbesar di dunia itu hanyalah satu dari sekian banyak proyek garapan Conoco yang totalnya mencapai $11 miliar. Sebagian besar dana hasil penjualan kemudian ditanamkan pada proyek eksplorasi di Amerika yaitu Eagle Ford Shale dan Bakken Shale, sebagaimana dipublikasikan oleh lembaga penyedia data energi, PLS.

Hal serupa dilakukan oleh produsen minyak asli Amerika, Hess, yang menjual asetnya senilai $4 miliar di Inggris, Azerbaijan dan Rusia guna membeyar hutang dan menyeimbangkan neraca. Adapun $3.1 miliar dari jumlah itu, ditanamkan ke lahan minyak di Dakota Utara sehingga hasil produksinya melesat hingga 55%.

Kebijakan yang tidak berbeda jauh diambil oleh perusahaan-perusahaan seperti Devon, Marathon, Anadarko, Murphy dan Noble Energy. Semua produsen itu telah melepas sebagian aset di luar negeri dalam beberapa tahun terakhir dan mengalihkannya ke dalam negeri. Selain Texas dan Dakota utara, wilayah lain yang kerap dijadikan target investasi migas adalah Colorado dan Pennsylvania.

Alasan mengapa produsen minyak lebih suka mengeruk laba di Amerika sangat jelas yakni karena faktor kemudahan baik dalam hal birokrasi maupun distribusi. Belum lagi pembagian hasil yang lebih atraktif ketimbang melakukan eksplorasi di Timur Tengah. Di Irak, Libya dan Irak, pungutan pajak dan royalti rata-rata mencapai 90% dari raihan laba perseroan. Sementara di Amerika, jarang sekali beban biaya eksplorasi menembus 50% dari total keuntungan. Peta geologi tanah Amerika juga cenderung lebih dapat dipetakan dibanding negara-negara lain. Sementara penegakan hukumnya juga kuat sehingga kecil risiko adanya konflik dan kekerasan. Dari segi sumber daya, kualitas pekerja di negeri adidaya jauh lebih ber-skill dan fasilitas infrastrukturnya juga sangat solid.

Sebanyak lebih dari $5 triliun modal baru diprediksi mengalir ke industri pengeboran minyak Amerika dan pengembangan energi tidak konvensional lainnya sampai tahun 2035 (penelitian IHS). Dana yang masuk berasal dari perusahaan Amerika maupun produsen-produsen luar yang ingin ikut dalam 'boom' energi Paman Sam. Sebanyak 1.7 juta orang saat ini terlibat dalam industri hasil bumi dan jumlahnya diperkirakan bertambah menjadi 3.5 juta dalam 20 tahun ke depan. Dari estimasi itu, 700.000 SDM diharapkan sudah benar-benar terserap di tahun 2015 mendatang.

Prospek bisnis energi non-Timur Tengah ibarat mainan baru bagi pihak produsen yang selama ini dibuat lelah oleh mekanisme birokrasi dan royalti besar di negara-negara dunia ke-tiga. Selain menguntungkan bagi pelakunya, kemajuan industri minyak Amerika dapat membantu percepatan roda ekonomi terutama jika dilihat dari aspek tenaga kerja. Bukan hanya bagi mereka yang terlilbat langsung dalam proses produksi, namun perluasan lapangan kerja juga merambat ke sektor lain mulai dari asuransi, real estat dan penyedia alat-alat berat.

 

 (dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar