Kamis, 30 Maret 2017

world-economy  World Economy

Anti-pemberitaan Negatif, Pemerintah China 'Usir' Jurnalis Asing

Senin, 3 Februari 2014 11:22 WIB
Dibaca 539

Monexnews - China tidak segan untuk mendepak media asing yang dinilai berbuat 'kurang ajar' dalam memberitakan suatu isu tentang pemerintah. Otoritas negara itu kembali mengusir seorang jurnalis pada pekan lalu karena masih trauma dengan hasil pemberitaan medianya dua tahun silam.

Austin Ramzy, wartawan New York Times, dipaksa meninggalkan Beijing pada hari Kamis pekan lalu setelah 6 tahun tinggal di negara perekonomian terbesar Asia itu. Ramzy kian melengkapi daftar jurnalis yang ditolak kehadirannya oleh pemerintah negara China. Sebagai catatan, wartawan-wartawan New York Times memang kesulitan untuk masuk ke wilayah China sejak tahun 2012, khususnya pasca publikasi hasil tulisan investigasi media Amerika itu tentang kekayaan eks-perdana menteri Wen Jiabao. Beberapa staf back-office lainnya juga terancam pulang lebih cepat karena sampai sekarang perpanjangan visanya belum diteken oleh pihak yang berwenang. 

Dalam beberapa bulan belakangan, pemerintah China memang sering menolak pengajuan visa baru atau perpanjangan visa kerja bagi jurnalis luar, khususnya yang bekerja untuk media Amerika Serikat. Dari sekian banyak wartawan senior yang tidak diperbolehkan masuk di antaranya adalah Chris Buckley dan Philip Pan dari New York Times. Beberapa orang yang bekerja untuk Washington Post, Bloomberg. Al-jazeera dan Reuters juga dilarang untuk meliput lagi. Mereka harus kembali ke negara asalnya masing-masing karena pemerintah tidak memberikan visa kerja dengan alasan yang berbeda pula.

Menyikapi tidak diizinkannya Austin Ramzy untuk bekerja di China, Gedung Putih langsung merespon secara agresif dengan pernyataan yang tidak kalah keras. "Kami kecewa dengan hal ini. Sikap China tidak sejalan dengan prinsip kebebasan pers dan tidak sama dengan cara kami memperlakukan para pekerjanya di sini," tegas Sekretaris Media Gedung Putih, Jay Carney. Sementara Austin Ramzy dalam akun Twitter-nya juga mengekspresikan rasa kecewa melalui kicauan yang berbunyi, "Sedih karena harus meninggalkan Beijing. Semoga saya bisa kembali lagi secepatnya".

Sikap agresif Beijing terhadap pelaku industri media semakin meningkat intensitasnya sejak medio 2013. Puncaknya pada awal Desember tahun lalu, otoritas China melakukan inspeksi mendadak ke kantor biro Bloomberg News di Beijing dan Shanghai. Media Fortune mengabarkan bahwa pasca 'penggerebekan' tersebut, Bloomberg langsung membatalkan investigasi jurnalistiknya yang sudah berjalan satu tahun tentang perputaran uang di kalangan pejabat pemerintah dan miliarder China.

Pihak redaksi Bloomberg memutuskan untuk tidak melanjutkan artikel investigasi yang mendiskreditkan pemerintah karena adanya tekanan moril. Petinggi media keuangan tersebut dikabarkan sangat kecewa dengan sikap otoritas seraya menganalogikan peristiwa pekan lalu dengan kebijakan sensor yang berlaku selama era Nazi Jerman.

 

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar