Jumat, 22 September 2017

world-economy  World Economy

Australia dan Jepang Perbarui Poin Kerjasama Perdagangan

Senin, 7 April 2014 13:31 WIB
Dibaca 1964

Monexnews - Dua negara yang sedang mengalami permasalahan ekonomi, Australia dan Jepang, dikabarkan baru meneken perjanjian kerjasama baru di bidang perdagangan. Kedua pemimpin negara berkepentingan untuk mempercepat laju ekonomi melalui kontrak bilateral. 

Perdana Menteri Tony Abbott dan Shinzo Abe dijadwalkan mengumumkan isi perjanjian bilateral antara kedua negara pada hari Senin (07/04). Termasuk di dalam kontrak kerjasama yang baru adalah pemotongan tarif ekspor daging ke Jepang dan pembebasan pajak kendaraan di Australia. Dua poin penting tersebut dianggap bisa berdampak baik terhadap kinerja ekonomi masing-masing negara, yang selama ini bergantung pada ekspor produk ternak dan otomotif. Selain bernegosiasi dengan Australia, PM Abe juga akan melakukan pertemuan dengan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, di bulan April. Serupa dengan tujuan pertemuannya dengan Tony Abbott, diskusi antara Tokyo dan Washington masih seputar optimalisasi perjanjian Trans-Pacific Partnership.

"Saya ingin kerjasama dengan Jepang dipercepat, namun dibutuhkan waktu agar perjanjian bisa memuaskan semua pihak," ujar Abbott kemarin. Dalam kerjasama Australia-Jepang, Abbott menjadi pihak yang paling berkepentingan karena ia ingin adanya suatu kebijakan baru yang bisa mendorong gairah ekonomi domestik. Dengan pemotongan tarif impor daging, maka volume permintaan dan marjin keuntungan industri ternak bisa meningkat. Abbott menginginkan poin kesepakatan yang sudah disepakati pekan ini bisa langsung diteken pada bulan Juli mendatang.

Jepang sepakat memangkas tarif untuk impor daging sapi Australia hingga di bawah 30%, dari persentase pajak saat ini yang mencapai 38.5%. Sementara pemerintah Australia akan menghapus pajak 5% untuk mobil-mobil Jepang ukuran kecil dan sedang. Pemerintah Canberra memang sedang dipusingkan dengan larinya produsen-produsen mobil asal Jepang dan Amerika dari wilayah Australia. Tiga perusahaan raksasa yaitu Toyota, General Motors dan Ford memutuskan untuk menutup pabriknya di negeri kangguru pada 2017 akibat biaya produksi yang tinggi dan penguatan kurs mata uang Aussie.

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar