Rabu, 13 Desember 2017

world-economy  World Economy

Bank Dunia Prediksi Defisit Transaksi Berjalan RI 2,9 Persen dari PDB

Rabu, 19 Maret 2014 9:40 WIB
Dibaca 705

Monexnews - Bank Dunia memperkirakan defisit neraca transaksi berjalan (current account deficit) Indonesia tahun ini akan sebesar 2,9 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Prediksi ini lebih rendah dibandingkan defisit neraca transaksi berjalan tahun lalu yang sebesar 3,3 persen dari PDB.

"Dampak negatif dari pelarangan ekspor mineral dan harga komoditas yang melemah membuat Bank Dunia memproyeksikan defisit neraca berjalan akan menyempit, yaitu 2,9 persen dari PDB pada tahun ini," demikian diungkapkan Manajer Sektor dan Ekonom Utama Bank Dunia untuk program perekonomian Indonesia Jim Brumby di Jakarta, Selasa (18/3).

Bank Dunia memperkirakan, kebijakan larangan ekspor mineral mentah akan menurunkan ekspor sebesar 12,5 miliar dolar AS. Selain itu, kebijakan tersebut juga menurunkan penerimaan negara seperti royalti, pajak ekspor, dan pajak penghasilan badan sebesar 6,5 miliar dolar AS selama tiga tahun ke depan. "Sumber utama dari peningkatan nilai tukar perdagangan yang membaik adalah karena adanya pengurangan impor," jelas Brumby.

Lebih lanjut ia mengungkapkan, Indonesia perlu melaksanakan reformasi kebijakan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang telah mencapai 5,7 persen pada tahun 2013 lalu. Salah satu reformasi kebijakan yang dapat dilakukan antara lain penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) untuk mengurangi beban belanja subsidi energi yang diperkirakan meningkat dari alokasi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2014. "Penyesuaian kebijakan harus menyangkut pengalihan belanja subsidi yang signifikan kepada kebutuhan yang lebih mendesak, seperti investasi bidang infrastruktur, perbaikan iklim investasi dan perbaikan pelayanan masyarakat," ungkapnya.

Bank Dunia juga memperkirakan, belanja subsidi akan mengalami peningkatan hingga mencapai sekitar 2,6 persen terhadap PDB jika tidak ada penyesuian harga BBM, meningkat jika dibandingkan tahun lalu yang sebesar 2,2 persen dari PDB. Di sisi lain, beberapa tantangan ekonomi Indonesia juga harus diwaspadai. "Pertumbuhan global menunjukkan sinyal positif, namun Indonesia menghadapi berbagai tantangan, termasuk nilai tukar, perdagangan yang tidak berubah, suku bunga lebih tinggi dan ketidakpastian kebijakan," katanya.(ans)


Sumber: rilis berita Kementerian Keuangan Republik Indonesia

www.kemenkeu.go.id

*disadur tanpa perubahan

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar