Senin, 24 April 2017

world-economy  World Economy

Bank Dunia Yakin Indonesia Lolos Jebakan Kelas Menengah

Selasa, 24 Juni 2014 15:15 WIB
Dibaca 521

Monexnews -  Indonesia harus memacu pertumbuhan ekonomi hingga mendekati 9 persen dan bergabung dalam negara-negara berpenghasilan tinggi pada tahun 2030, agar tidak terjebak dalam jebakan kelas menengah (middle income trap). Hal tersebut tercantum dalam Laporan Bank Dunia yang berjudul Indonesia: Avoiding the Trap.

“Dunia menunggu Indonesia untuk mengambil posisinya sebagai pemimpin ekonomi dunia. Untuk mencapai hal tersebut, Indonesia harus meningkatkan daya saingnya dengan menutup kesenjangan  infrastruktur dan keahlian serta meningkatkan fungsi pasar. Langkah-langkah tersebut akan memberikan dampak yang signifikan pada peningkatan produktivitas dan pendapatan. Selain itu, langkah ini juga memerlukan (pengelolaan) belanja pemerintah yang lebih baik yang mengurangi inefisiensi, seperti subsidi BBM,” demikian dikatakan World Bank Country Director for Indonesia Rodrigo Chaves seperti dikutip dari situs resmi Bank Dunia.

Ia menambahkan, bermodal generasi muda yang melek teknologi sejalan dengan biaya buruh di Tiongkok yang meningkat, Indonesia merupakan tempat yang baik untuk investasi lokal dan internasional dalam hal manufaktur.

Langkah selanjutnya untuk menghindari middle income trap adalah dengan meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Menurut Ekonom Utama Bank Dunia untuk Indonesia Ndiame Diop, meskipun akses pendidikan di Indonesia telah meningkatkan secara signifikan, tetapi tantangannya saat ini adalah bagaimana meningkatkan kualitas pendidikan, seperti melalui pusat pelatihan modern agar lulusannya memiliki keterampilan dan menjadi kompetitif.

Selain itu, yang juga memengaruhi pertumbuhan adalah infrastruktur. Bank Dunia menilai, total investasi infrastruktur yang dilakukan oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan swasta selama satu dekade terakhir hanya senilai 4 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), atau sekitar setengah dari yang dibutuhkan. Terkait rendahnya investasi ini, laporan tersebut memperkirakan Indonesia telah kehilangan setidaknya 1 persen pertumbuhan ekonomi setiap tahunnya selama satu dekade.

Pengurangan subsidi bahan bakar minyak (BBM) juga akan membuat pemerintah mengalokasikan dana yang ada untuk sektor infrastruktur dan kebutuhan mendesak lainnya. Realokasi belanja dan peningkatan efisiensi di tingkat provinsi dan kabupaten diyakini akan membuat dana mengalir ke belanja infrastruktur. Ditunjang dengan pemerintahan daerah yang lebih baik, hal ini akan membantu pelayanan daerah, seperti kesehatan, sanitasi, dan pengelolaan sampah.

Sejalan dengan peningkatan infrastruktur dan keterampilan, pelaksanaan regulasi yang konsisten juga akan membantu pertumbuhan. “Sinyal yang berbeda-beda tidak akan menarik investor. Beberapa upaya perlu dilakukan untuk memfasilitasi dan memberikan izin di beberapa sektor. Namun demikian, pada saat yang sama, peraturan baru memberikan diskresi luas kepada K/L. Pengalaman internasional menunjukkan bahwa kebijakan yang paling menguntungkan publik adalah kebijakan yang transparan dengan diskresi minimum atau nol,” jelas Diop.

Dengan beberapa perubahan atau reformasi di atas, Bank Dunia meyakini Indonesia dapat bangkit dan terhindar dari jebakan kelas menengah. “Risiko jebakan kelas menengah itu nyata dan teknokrat Indonesia harus mulai mengkhawatirkan hal tersebut,” katanya.(ya)

Sumber: rilis berita Kementerian Keuangan Republik Indonesia

www.kemenkeu.go.id

-disadur tanpa penyuntingan


(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar