Selasa, 28 Maret 2017

world-economy  World Economy

Bank Indonesia: Sebaiknya Harga BBM Naik Sekaligus

Jumat, 12 September 2014 15:59 WIB
Dibaca 1101

Monexnews - Wacana soal kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) ibarat bola panas yang terus bergulir. Tarik ulur politik antar partai dapat menghambat realisasinya. 

Spekulasi soal waktu kenaikan harga BBM kian menguat di penghujung masa kerja pemerintah Indonesia yang dikomandoi oleh Susilo Bambang Yudhoyono. Hampir bisa dipastikan bahwa Presiden berikutnya, yakni Joko Widodo, yang akan memutuskan kebijakan non-populer tersebut. Tim transisi sang calon presiden sudah melempar dua opsi penyesuaian harga BBM, yakni naik secara bertahap atau naik langsung dalam jumlah yang signifikan.

Menurut Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Mirza Adityaswara, alangkah baiknya jika pemerintah menaikkan harga BBM secara sekaligus. Kebijakan ini memang terlihat kejam namun mampu membentengi Indonesia dari gejolak inflasi. "Katakanlah BBM dinaikkan IDR3,000 (per liter), itu lebih baik daripada menaikkannya IDR1,000 berulangkali," tegasnya. Untuk waktunya sendiri, Mirza menilai sebaiknya di kuartal IV 2014. Ia tidak merekomendasikan kenaikan BBM terjadi setelah Februari, karena tekanan inflasi sudah tidak bisa dibendung dan Fed Fund Rate diramalkan lebih tinggi di kuartal II atau III tahun 2015.

Beberapa saat lalu, Menkeu Chatib Basri menyoroti ancaman defisit neraca transaksi berjalan Indonesia. Ia mengatakan defisit transaksi berjalan akan menyentuh angka $26 miliar di akhir tahun, berkaca pada trend defisit yang terjadi selama semester pertama. Impor BBM menjadi pos pemborosan terbesar yang membuat neraca keuangan sulit distabilkan.

Namun ia melihat ada beberapa faktor yang bisa membantu perbaikan postur defisit di bulan-bulan berikutnya mulai dari kenaikan harga BBM hingga ekspor tambang dari Freeport dan Newmont. Penurunan kinerja ekonomi nasional dari 5.8% (akhir 2013) menjadi 5.2% di semester pertama lalu turut membantu upaya pengurangan defisit karena arus impor juga ikut menyusut. "Permintaan investasi turun, sehingga permintaan barang impor juga berkurang. Rupiah sudah jatuh ke 11.600 per Dollar dan akan membantu peningkatan ekspor," tambah menkeu. Apabila harapan menkeu terbukti, maka defisit Indonesia akan benar-benar berkurang di sepanjang sisa tahun 2014. Kementerian Keuangan memprediksi pertumbuhan ekonomi pada kuartal III-2014 mencapai 5.4% dan rata-rata inflasi hingga akhir tahun di sekitar 5.3% atau di bawah asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan 2014, yakni antara 5.5 dan 7.3%.

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar