Senin, 29 Mei 2017

world-economy  World Economy

Bank Sentral Asia Antisipasi Langkah the Fed

Selasa, 10 September 2013 22:07 WIB
Dibaca 717

Monexnews - Seiring pasar global bergejolak mengantisipasi keputusan Federal Reserve AS pekan depan mengenai pemangkasan stimulus moneternya, empat bank sentral di Asia-Pasifik dengan berbagai level nyaman yang berbeda kemungkinan akan menahan tingkat suku bunga pada pertemuan kebijakan hari Kamis. Indonesia, Filipina, Korea Selatan, dan Selandia Baru semuanya menghadapi badai pada pasar sejak bulan Mei, ketika pertama kalinya the Fed mensinyalkan bahwa dapat mulai memangkas stimulus moneter yang telah berlangsung selama hampir 5 tahun. Seiring terguncangnya pasar pada negara berkembang, investor nampak lebih diskriminasi, memilih untuk berinvestasi pada perekonomian yang menunjukkan prospek pertumbuhan yang baik, memiliki tingkat inflasi yang rendah dan kondisi fiskal yang sehat.

"Sejumlah pasar mencetak penurunan yang berlebihan pada aksi jual baru-baru ini," menurut riset global HSBC pada hari Senin. Alasan untuk lebih cermat termasuk stabilnya tingkat pertumbuhan di China, pulihnya siklus industri global, dan sejumlah ekspektasi bahwa kawasan China akan lebih tidak sensitif untuk menaikkan suku bunga seperti seharusnya dalam merespon tapering oleh the Fed. "Di tengah semua diskusi mengenai akhir dari era negara berkembang, apakah anda memperkirakan negara di Barat akan mencetak tingkat pertumbuhan di atas negara berkembang ini dalam waktu dekat?” menurut HSBC.

            Dari sejumlah bank sentral yang bertemu pada hari Kamis nanti, hanya Indonesia yang nampak beresiko besar untuk ditinggalkan investor. Negara perekonomian terbesar di Asia Tenggara ini membutuhkan aliran modal masuk untuk mengatasi defisit neraca berjalan yang mencapai 4.4% dari GDP di kuartal kedua. Sebaliknya, Filipina, Korea Selatan, dan Selandia baru telah melewati beberapa bulan belakangan ini dalam kondisi yang membaik. Mereka juga ditinggalkan oleh investor, namun masih bukan dalam skala yang dapat menghilangkan stabilitas pasar atau perekonomian.

Jika the Fed sesuai perkiraan memulai pengurangan bertahap pada program pembelian obligasinya, kenaikan pada yield obligasi AS dapat menambah kesulitan pasar negara berkembang. Namun hal itu juga akan menghilangkan ketidakpasian, dan membuat para bank sentral tersebut lebih nyaman dalam menanti hingga tahun depan untuk mulai menaikkan tingkat suku bunga, optimis bahwa the Fed tidak akan menaikkan suku bunga terlebih dahulu.

Petinggi di Indonesia akan menanti keputusan the Fed pada tanggan 18 September nanti dengan rasa cemas yang lebih besar. Untuk menghentikan aliran dana keluar dan mengatasi dampak inflasi dari lemahnya mata uang, Bank Indonesia telah menaikkan tingkat suku bunga sebanyak 125 basis poin sejak bulan Juni lalu. Permasalahan pada rupiah semakin dalam pada hari Selasa seiring anjlok sebanyak 3% menuju level terlemah terhadap dollar sejak April 2009. Rupiah telah melemah sebanyak 15% sejak awal tahun ini. Namun, seiring kenaikan tingkat suku bunga oleh BI belakangan ini pada pertemuan darurat tanggal 29 Agustus lalu, mayoritas ekonom memperkirakan mereka akan menahan tingkat suku bugna pada pertemuan hari Kamis nanti. Bagaimanapun, mengingat peluang the Fed akan mengacaukan pasar lebih lanjut, sejumlah ekonom memperkirakan bank sentral Indonesia akan terpaksa kemebali menaikkan suku bunga.

(xiang)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar