Sabtu, 21 Januari 2017

breaking-news Penjualan Ritel Inggris turun -1.9% di Desember vs. 0.2% di November, ekspektasi -0.1%.

world-economy  World Economy

Bank Sentral Jepang Waspadai Trend Perekonomian China

Kamis, 31 Juli 2014 10:26 WIB
Dibaca 669

Monexnews - Perlambatan ekonomi di negara China tidak hanya dikhawatirkan oleh pemerintah pusatnya. Negara-negara mitra dagang Tiongkok juga was-was menyikapi penurunan kinerja ekonomi di negara terbesar Asia tersebut.

Salah satu negara yang sangat mewaspadai kondisi China adalah Jepang. Melalui pejabatnya, Takahide Kiuchi, Bank of Japan memperingatkan pelaku bisnis dan ekonomi untuk terus mengamati apa yang terjadi di China. Bank sentral ikut mengkritisi kebijakan pemerintah Beijing yang bertujuan untuk meredam gelembung pasar hunian di dalam negeri. Menurut Bank of Japan, pengetatan aturan tersebut akan berdampak negatif terhadap lini ekspor Jepang.

Selama ini pertumbuhan ekonomi Tiongkok stabil berkat dukungan berbagai faktor, di antaranya adalah investasi di sektor properti. Namun dengan keluarnya berbagai aturan baru di sektor perbankan dan kredit, pasar hunian diyakini tidak akan seramai tahun lalu sehingga perekonomian ikut merosot.  "Apa yang terjadi di China berdampak kurang baik bagi pelaku ekspor Jepang," ujar Kiuchi dalam sebuah kesempatan beberapa saat lalu.

Kekhawatiran Bank of Japan sangat beralasan karena China merupakan pasar terbesar bagi perusahaan-perusahaan eksportir. Namun statement Kiuchi berlawanan dengan komentar bosnya, Haruhiko Kuroda, yang bulan lalu mengutarakan keyakinannya bahwa perekonomian China akan tetap tumbuh seperti sekarang. Bank sentral Jepang sendiri dilaporkan mulai mempersiapkan formula kebijakan baru untuk mengantisipasi perlambatan ekonomi China.

Seperti diberitakan oleh Monexnews kemarin, Bank Sentral China (PBOC) telah mengambil langkah penting untuk menjaga stabilitas ekonomi sejak Juni lalu. PBOC meluncurkan stimulus berupa pemberian kredit baru dan pemangkasan Giro Wajib Minimum (GWM) bagi beberapa bank serta menyiapkan fasilitas kredit sebesar 1 triliun Yuan ($162 miliar) bersama Bank China Development untuk membiayai proyek perumahan. Selain stimulus moneter, pemerintah China juga merilis stimulus fiskal dengan cara memperbesar anggaran belanja pemerintah. Dampak dari rangkaian kebijakan ini kemungkinan baru bisa terlihat di pertengahan kuartal III hingga triwulan IV 2014.

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar