Rabu, 29 Maret 2017

breaking-news Indeks Kepercayaan Konsumen AS melonjak ke 125.6 di bulan Maret, melampaui estimasi 114.0

world-economy  World Economy

Barclays: China Berpotensi Mengalami Gangguan Sistemik

Selasa, 31 Desember 2013 10:32 WIB
Dibaca 649

Monexnews - Di tengah lambatnya laju perekonomian dalam dua tahun terakhir, pemerintah negara China masih menyimpan potensi masalah besar. Besarnya hutang pemerintah daerah dalam setahun terakhir berisiko menciptakan gejolak di sistem keuangan negara perekonomian terbesar Asia itu. 

Lembaga keuangan mulai mengkritisi buruknya manajemen kredit di China seraya memperingatkan peluang munculnya masalah baru. Salah satu institusi yang mengkritik pembengkakan hutang di struktur daerah China adalah Barclays. Dalam rilis analisanya pagi ini, Barclays memperingatkan adanya risiko besar untuk periode jangka pendek dan menengah. Di tengah iklim perbankan yang kurang pengawasan, perlambatan ekonomi dan liberalisasi pasar finansial, risiko gangguan sistemik di sistem keuangan ikut membesar.

"Kebijakan fiskal harus lebih diperketat tahun depan walaupun pemerintah pusat sudah bersikap pro-aktif belakangan ini," demikian urai Barclays dalam hasil penelitiannya. Masih menurut lembaga keuangan ini, defisit anggaran diperkirakan naik dari 1.2 triliun Yuan tahun ini menjadi 1.3 triliun Yuan pada tahun depan.

Pernyataan Barclays merupakan respon atas dirilisnya data terbaru oleh kantor audit pemerintah. National Audit Office dalam pernyataannya menyebut total hutang yang harus dibayarkan oleh pemerintah berbagai daerah adalah sebesar 17.9 triliun Yuan ($3 triliun) atau setara Rp36 ribu triliun! Angka yang dikompilasi pada bulan Juni lalu itu jauh lebih besar ketimbang total hutang tahun 2010 yang 'hanya' 10.7 triliun.

Terlepas dari besarnya beban pembayaran pemda, kantor audit mengklaim jumlah itu masih terkendali. Pemerintah menilai total hutang pemerintah lokal masih lebih kecil dibandingkan negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Jepang dan Spanyol. Kalaupun ada hal yang menakutkan tak lain adalah cepatnya laju pembengkakan hutang tersebut. Trend pembangunan infrastruktur beberapa tahun terakhir memang memaksa pemda untuk meminjam uang lebih banyak. Di sisi lain, kesukaan pemerintah untuk meminjam uang (kredit) menimbulkan kekhawatiran tersendiri karena dalam sejarahnya, berbagai krisis finansial berawal dari instabilitas pasar kredit.

China kini ditantang untuk menghilangkan ketergantungannya terhadap pinjaman kredit. Pemerintah pusat sedikit banyak sudah melakukan antisipasi untuk menangkal gejolak dana di pasar tahun ini. Otoritas menguji daya tahan sistem keuangan dengan memompa uang baru nyaris senilai $50 miliar untuk berjaga-jaga. Pun demikian, banyak pihak menilai pemerintah telat melakukan tugasnya karena mereka seharusnya bisa melakukan itu lebih cepat sehingga potensi kekurangan dana tunai bisa diminimalisasi.

Secara garis besar, pertumbuhan ekonomi melambat di negeri tirai bambu. China diprediksi membukukan kenaikan nilai GDP 7.6% untuk periode 2013 atau sedikit di atas target awal pemerintah pusat. Namun jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, rasio pertumbuhan jelas lebih rendah. Pada 2010, China mencatat pertumbuhan GDP 10.4%, kemudian 9.3% di 2011 dan 7.8% pada tahun lalu.

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar