Kamis, 21 September 2017

world-economy  World Economy

Bermain Saham Kelas Teri, Trader Muda Sulap Rp18 Juta Menjadi Belasan Miliar

Selasa, 17 Desember 2013 10:18 WIB
Dibaca 33062

Monexnews - Keinginan untuk bisa meraup return besar tidak hanya bisa diwujudkan dengan menanamkan modal pada saham-saham high-profile. Seorang pemuda di Amerika Serikat membuktikan dirinya mampu memperoleh hasil investasi besar meski hanya bermain di saham-saham kelas teri.

Sekitar tiga tahun lalu, anak muda bernama Tim Grittani mengawali trading bermodalkan tabungan $1500 atau kurang dari Rp18 juta. Namun kini asetnya bertambah besar hingga mencapai lebih dari $1 juta (Rp12 miliar) hanya dengan penempatan modal di saham-saham perusahaan kecil yang harga belinya kala itu di bawah $1 per unit.

Grittani mengakui bahwa strategi investasinya itu cukup berisiko ketimbang jika ia menaruh uang pada saham-saham kelas berat seperti Apple atau Google. "Saya terus trading setiap hari selama tiga tahun. Prosesnya sangat lambat dari hari ke hari," ujarnya kepada CNN. Ia menghabiskan waktu sepanjang hari di depan komputer untuk memantau harga, termasuk mengambil posisi beli dan jual pada waktu yang dianggapnya tepat. Terkadang Grittani mengambil posisi masuk dan keluar dalam hitungan menit, dan posisi terlama yang ia pegang hanyalah beberapa hari.

Strategi untuk bermain di saham-saham murah atau lazim disebut 'penny stocks' memang berbeda dibandingkan transaksi pada saham blue chips. Pihak Securities and Exchange Commission sendiri sudah mewanti-wanti investor tentang karakteristik saham kelas teri, yang berpotensi menimbulkan kerugian besar dalam waktu singkat. Penny stocks kerap dijadikan sasaran spekulan karena volume perdagangannya rendah dan lebih sering dipindahtangankan di luar bursa (over the counter). Lebih dari itu, saham-saham kelas teri seringkali 'digoreng' oleh investor dan scammer dengan cara mempromosikannya di media blog, sosial media maupun email. Spekulan-spekulan ini berupaya menggiring opini investor terhadap prospek harga suatu saham. Mereka biasanya sudah memiliki banyak saham jenis ini sebelum melempar rumor ke pasar, sehingga pada saat harga jualnya naik di tengah aksi beli, mereka tinggal menjualnya untuk meraup laba besar. Sementara investor kecil yang terbawa arus pemberitaan tadi terpaksa menerima kerugian dalam jumlah yang biasanya juga tidak sedikit.

Grittani bukanlah pihak yang ikut menggoreng harga saham karena modalnya sendiri tidak bsia dibilang besar. Namun ia terus mempelajari karakteristik pergerakan saham dan rumor yang beredar di dunia maya sehingga dirinya mampu mengidentifikasi kapan waktu yang tepat untuk jual ataupun beli. Salah satu contohnya adalah awal pekan ini, di mana ia mulai melihat saham (over the counter) perusahaan kecil bernama Nutranomics sudah mulai jenuh karena naik tiga kali lipat hanya dalam sebulan akibat aksi scammer. Hari Senin kemarin Grittani melihat saham Nutanomics mulai kehilangan momentum, dan koreksi tinggal menunggu waktu. Perkiraannya terbukti akurat karena saham itu anjlok nyaris 60% hanya dalam 23 menit. Walaupun tidak meraup laba sebesar rasio penurunan itu, ia masih mampu mengantongi $8000 dari penjualan saham dalam hitungan 10 menit. Strategi yang diambil oleh Tim Grittani dilakukannya setiap hari, dan pernah juga menimbulkan kerugian.

Pemuda yang baru genap berusia 24 tahun ini mengawali trading dengan mamakai sedikit uang. "Saya mulai dengan membuka account $500 untuk coba-coba," imbuhnya. Namun karena minim pengalaman, ia kehilangan separuh modalnya hanya dalam beberapa pekan. Untuk mencari 'bantuan' dari luar, ia kemudian mencari informasi di internet dan menemukan cerita tentang Tim Sykes, seorang trader saham yang sukses dari investasi pada saham murah. Ia kemudian mencoba menerapkan ilmu yang didapatnya dengan mulai mengincar saham yang justru sering dianggap sebagai 'saham gorengan'. Pada suatu waktu, Grittani menerima email yang menyebut kalau saham perusahaan bernama Amwest Imaging akan menguat dalam waktu dekat. Ia tahu benar kalau email yang diterimanya adalah scam, namun bukannya menjauh Grittani justru membeli saham Amwest senilai $3000. Ia kemudian menghabiskan waktu untuk memantau kapan waktu penurunan harga saham itu. Ketika melihat saham telah jenuh dan koreksi suda di depan mata, Grittani langsung menjual untuk membukukan laba 70% atau sekitar $2000. "Itulah karakteristik saham kelas teri. Kuncinya adalah membeli sebelum banyak investor lain melakukannya," kata lelaki yang asetnya sudah membengkak lebih dari $1 juta ini.

Tim Grittani dan Tim Sykes sempat bertemu dalam sebuah sesi wawancara. Guru dan murid ini sepakat mengatakan kalau trading pada saham-saham murah tidak bisa dikategorikan sebagai investasi jangka panjang. Mereka menyarankan orang-orang yang ingin mencoba cara ini untuk hanya menanamkan sebagian kecil uang. "Saya rasa ini cocok bagi mereka yang suka berjudi. Karena seperti di kasino, saham-saham murah ini juga mempunyai pola pergerakan tertentu yang bisa diidentifikasi," ucap Sykes kepada CNN.

Sementara Tim Grittani mengakui rekor imbal hasil tertingginya dalam satu hari adalah sebesar $215.000 atau lebih dari Rp2.5 miliar. Keuntungan itu didapatnya dari kombinasi penempatan posisi jual dan beli pada saham raksasa keuangan, Fannie Mae. "Saya ingin pendapatan bersih saya bisa melampaui $1 juta dalam satu atau dua tahun ke depan," kata Grittani. Sementara untuk saat ini, ia mengklaim personal net-nya baru di kisaran $650.000.

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar

yukinvestasisaham.com 2 November 2014
seringkali cara seperti ini membuat kita nyangkut jika tidak bisa bertindak cepat....