Jumat, 15 Desember 2017

world-economy  World Economy

Bos Minyak Rusia: Kami Tidak Takut Embargo

Senin, 7 April 2014 10:41 WIB
Dibaca 1125

Monexnews - Embargo yang diberlakukan oleh Amerika Serikat dan sekutunya terhadap Rusia berpotensi mengubah peta distribusi energi antar negara. Namun produsen migas raksasa, Gazprom Neft, sesumbar kalau penjualannya tidak akan terpengaruh oleh sanksi negara barat karena sudah memiliki portofolio bisnis yang mapan.

Apabila nantinya Gazprom kehilangan kontrak miliaran Dollar dari konsumennya, maka perusahaan akan mengalihkan ekspor minyak ke wilayah lain seperti Asia. Pernyataan tersebut diungkapkan oleh CEO Alexander Dyukov kepada CNBC beberapa saat lalu. "Kerjasama dengan pihak bank dan perusahaan barat kemungkinan tetap berlangsung, namun kami juga sudah menjalin komunikasi dengan kreditur Asia dan mitra baru di dalam negeri untuk jaga-jaga," ujar Dyukov. Bos perusahaan yang dikenal dekat dengan lingkaran istana Kremlin ini meyakini kalau Gazprom tidak akan terpengaruh oleh eskalasi konflik di Eropa Timur.

Sejauh ini, Amerika Serikat dan Uni Eropa baru memberlakukan sanksi berupa pembekuan aset dan pelarangan visa bagi tokoh asal Rusia yang dianggap pro-pemerintahan. Penalti yang diberikan tersebut merupakan konsekuensi dari aksi militer dan voting politik yang diprakarsai oleh Presiden Vladimir Putin di wilayah sengketa, Crimea.

CEO Gazprom memastikan bahwa perusahaannya tidak akan terlalu bergantung lagi pada penjualan berbasis Dollar. Ia membuka kemungkinan kerjasama baru yang lebih intens dengan beberapa negara Asia, yang notabene laju perekonomiannya lebih maju. "Tentu saya sudah bertemu dengan mitra kerja dari barat, dan mereka juga tidak ingin konflik terus berlanjut," tutur Dyukov. Terlebih lagi, Gazprom sekarang sedang menggarap proyek minyak masa depan di wilayah Siberia dengan pihak Royal Dutch Shell, produsen migas asal Belanda. Pemberlakuan embargo baru hanya akan menghancurkan kerjasama proyek yang telah dirancang sejak lama. 

Perusahaan asal Rusia memang mulai menghilangkan ketergantungannya terhadap Amerika Serikat, di antaranya dengan mengubah kontrak-kontrak kerja yang didasarkan pada mata uang Dollar ke valuta lain seperti Euro. "Kami sudah membicarakan rencana itu (perubahan kontrak) kepada semua pembeli, dan 95% mengatakan kalau itu tidak masalah," kilah CEO Gazprom. Ia bahkan menyebut konversi kontrak ke mata uang Rubel Rusia juga dimungkinkan apabila pihaknya menginginkan demikian.

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar