Jumat, 20 Oktober 2017

world-economy  World Economy

Bos Shell Minta Pemerintah Amerika Cabut Larangan Ekspor Minyak

Rabu, 3 September 2014 10:39 WIB
Dibaca 1405

Monexnews - Cadangan minyak mentah Amerika Serikat melonjak dalam beberapa tahun terakhir berkat strategi ketahanan energi yang bagus dari pemerintah. Berbeda dengan empat dasawarsa lalu, pihak Washington sebaliknya kini diminta untuk mencabut larangan ekspor ke negara luar sesegera mungkin. 

Menurut Chief Executive Officer Shell, Ben van Beurden, pemangku kebijakan di Amerika harus mulai menerapkan liberalisasi, diversifikasi dan kerjasama luar negeri dalam mengelola kebijakan energinya. Salah satu cara adalah dengan membuka lagi akses ekspor minyak ke negara konsumen agar stabilitas harga tetap terjaga. "Ekspor (minyak) akan meningkatkan neraca perdagangan dan membantu terciptanya sistem ketahanan energi dunia," ujarnya dalam konferensi energi di Columbia University.

Sejak embargo minyak Arab tahun 1970-an, Amerika memberlakukan larangan ekspor energi ke luar negeri untuk menjaga kesejahteraan warganya. Tetapi kebijakan itu sekarang dianggap tidak relevan karena cadangan minyak di sana sangat berlimpah, khususnya berkat penggunaan teknologi shale dengan menggali sumber minyak dari permukaan keras. Dalam waktu yang tidak lama lagi, Amerika akan menyalip Arab Saudi dan Rusia sebagai produsen minyak mentah terbesar sejagad.

Pada bulan Juni lalu, pemerintah memberikan sedikit pelonggaran kepada dua perusahaan, yakni Enterprise Product Partners (EPD.N) dan Pioneer Natural Resources (PXD.N), untuk mengekspor minyak jenis ultra light dari produk minyak kondensasi. Namun sejak saat itu, permintaan untuk ekspor dari perusahaan lainnya belum juga dikabulkan oleh Departemen Perdagangan. Sementara untuk produk gas alam, otoritas energi sudah memperbolehkan beberapa perusahaan melakukan ekspor ke luar negeri mulai awal tahun depan.

CEO Shell berpendapat kalau arus produksi dan distribusi minyak akan lebih stabil apabila sebagian di-ekspor ke perusahaan penyulingan di luar negeri. "Hal itu juga akan mencegah lonjakan harga secara tiba-tiba," tambah van Beurden. Sampai sekarang, baik pihak kongres maupun Gedung Putih belum memberi sinyal akan dicabutnya larangan ekspor minyak. Kedua lembaga tidak mau disalahkan apabila nantinya harga minyak meroket tiba-tiba karena faktor lain yang tidak terkait dengan volume persediaan dalam negeri.

Beberapa negara sudah antri untuk membeli produksi minyak Amerika karena sumber energi dunia mulai berkurang. Delegasi Korea Selatan sempat bertemu langsung dengan pejabat legislatif di Washington untuk membahas soal kemungkinan ini. Sementara pemerintah Jepang dan Meksiko dalam posisi 'stand-by' menunggu lampu hijau soal kapan dicabutnya larangan ekspor Amerika. 

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar