Minggu, 23 Juli 2017

world-economy  World Economy

China Inginkan Hak Veto di AIIB

Selasa, 9 Juni 2015 10:56 WIB
Dibaca 2539

Monexnews - Langkah China untuk membentuk lembaga simpan pinjam Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) disambut baik oleh negara-negara lain. Melihat respon positif tersebut, pemerintah Tiongkok ingin semakin mengukuhkan dirinya sebagai pendiri AIIB dengan hak veto.

Menurut Wall Street Journal hari ini, China akan membuat struktur direksi di AIIB jadi sangat sederhana. Tujuannya adalah untuk memberikan opsi veto untuk pemerintahnya dalam pengambilan keputusan yang dianggap besar. Mekanismenya, China akan memiliki porsi saham terbesar di AIIB dan perwakilannya memiliki hak veto dalam kebijakan utama.

Sesuai dengan panduan yang disepakati oleh 57 negara pendirinya bulan lalu, dewan direksi AIIB akan mengawasi operasional lembaga tanpa dibayar, atau berbeda dengan World Bank dan the Asian Development Bank. Markasnya akan berpusat di Beijing dengan bahasa Inggris menjadi bahasa resmi dalam setiap komunikasi. AIIB lebih fleksibel membuka pengajuan proyek pembangunan kepada siapapun, tidak seperti ADB, yang hanya memberikan kotrak proyek kepada negara anggotanya.

Bank Investasi Infrastruktur Asia adalah bank simpan pinjam yang dibentuk oleh China sebagai sumber pendanaan negara-negara yang membutuhkan modal pembangunan. Keberadaannya dianggap oleh Amerika dan sekutunya sebagai alat untuk memperluas pengaruh Tiongkok. Indonesia sendiri sudah bergabung dengan AIIB sejak pertama kali berdiri meskipun absen saat peluncurannya tahun lalu. Menurut China, negara terakhir yang sudah mengajukan proposal untuk bergabung adalah Austria.

Keputusan China untuk mempelopori pendirian bank simpan pinjam ala World Bank dan Asian Development Bank (ADB) sempat tidak mendapat dukungan dari 3 negara besar di kawasan Asia Pasifik. Amerika Serikat bahkan merasa langkah itu tidak perlu karena lembaga kreditur yang sudah ada sekarang mampu mengakomodasi kepentingan anggotanya. Dengan bermodalkan kas awal $50 miliar, AIIB tetap diluncurkan pada tanggal 24 Oktober 2014 di Beijing.

Pihak Amerika Serikat mengklaim keberadaan AIIB hanya untuk menyaingi Bank Dunia dan ADB, yang selama ini memang dikenal sebagai perpanjangan tangan Washington di negara-negara berkembang. Sejak menjadi negara perekonomian terbesar sejagad, Tiongkok memang giat memperluas pengaruhnya di sektor bisnis maupun politik ke negara-negara mitra dagang, salah satunya adalah dengan mendirikan bank kreditur baru. Sikap Amerika mendapat dukungan dari 3 negara besar di Asia Pasifik. Perwakilan dari Australia, Indonesia dan Korea Selatan tidak hadir dalam peluncuran AIIB sehingga memunculkan spekulasi bahwa inisiatif China tidak mendapat support dari negara tetangga. Tetapi perkiraan itu pupus karena Indonesia akhirnya jadi ikut bergabung. China sendiri menjadi penyandang dana terbesar AIIB dengan kontribusi modal awal mencapai 50%. (dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar