Sabtu, 27 Mei 2017

world-economy  World Economy

Data Niaga Jepang Hidupkan Kembali Spekulasi Stimulus BOJ

Senin, 21 April 2014 9:30 WIB
Dibaca 432

Monexnews - Laju pertumbuhan tahunan tingkat ekspor Jepang melambat tajam di bulan Maret akibat berkurangnya tingkat ekspor ke China, menimbulkan keraguan bahwa pemulihan permintaan eksternal dapat membantu meredam dampak kenaikan pajak penjualan tanggal 1 April lalu. Data dari Menteri Keuangan menunjukkan tingkat ekspor naik 1.8% di bulan Maret dari setahun lalu, menyusul kenaikan sebesar 9.8% pada bulan sebelumnya, dan jauh di bawah ekspektasi ekonom untuk kenaikan sebesar 6.3%. Lemahnya sektor ekspor mendorong defisit perdagangan Jepang menuju rekor tiggi pada 13.75 trilyun yen (80.05 milyar pound) untuk tahun fiskal yang berakhir di bulan Maret.

Data terkini ini menambah serentetan data termasuk belanja modal dan konsumsi sektor swasta, yang telah menghidupkan kembali ekspektasi bahwa Bank of Japan akan merilis stimulus tambahan pada musim panas ini untuk menopang tingkat pertumbuhan. Setelah melaju lebih cepat dari negara maju lainnya pada semester pertama tahun lalu, perekonomian Jepang telah melambat dalam beberapa kuartal belakangan ini seiring dampak stimulus agresif dari Tokyo memudar. Kecemasan koreksi yang lebih dalam telah menekan sentimen investor dan bursa saham tahun ini, meski pemeirntah Jepang mengatakan telah bersiap untuk melihat adanya penurunan jangka pendek pada tingkat pertumbuhan. BOJ telah berulang kali menepis spekulasi pelonggaranlebih lanjut, bersikeras bahwa perekonomian sedang berada dalam jalur menuju target inflasi sebesar 2%, namun beban mungkin lebih berat ke pemerintah untuk mengambil langkah lebih lanjut guna menopang sektor investasi bisnis.

"Tingkat ekspor lemah karena produk Jepang tidak kompetitif seperti dulu," ucap Yasuo Yamamoto, ekonom senior pada Mizuho Research Institute. "Hal ini menandakan perekonomian akan sulit pulih pasca kenaikan pajak penjualan. Pemerintah harus membenahi strategi pertumbuhannya  untuk membuat perusahaan Jepang lebih kompetitif."

Pelemahan pada sektor ekspor – penggerak utama perekonomian terbesar ketiga di dunia tersebut – telah menjadi sebuah kecemasan bagi pemerintah, yang bergantung pada ekspor untuk membantu meredam penurunan tingkat permintaan domestik pasca kenaikan pajak penjualan menjadi 8% dari 5%. Ekspor Jepang menuju China naik dalam laju tahunan sebesar 4.3% di bulan Maret, menandai perlambatan dari laju tahunan sebesar 27.6% di bulan Februari. Sektor ekspor masih sulit untuk melaju kendati adanya pelemahan yen, yang mana mendorong biaya impor, yang berujung pada rekor defisit perdagangan 21 bulan berturut-turut.

(xiang)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar