Selasa, 25 Juli 2017

world-economy  World Economy

Derasnya Capital Outflow Dari Emerging Market Masih Berlanjut

Selasa, 2 Juli 2013 16:17 WIB
Dibaca 329

Monexnews -

Sejumlah negara yang berkategori emerging market dilanda tekanan capital outflow seiring dengan deras nya dana yang mengalir keluar dalam sebulan belakangan dipicu oleh ekspekstasi sejumlah investor mengenai akan berakhirnya masa uang longgar sejalan dengan pulihnya perekonomian Amerika Serikat.

Alasan lainnya para investor menarik modal dari Turki, Brazil hingga Cina adalah lambatnya perekonomian, kejatuhan harga komoditi, dan para pengunjuk rasa turun ke jalan. Semua hal tersebut menjadi isyarat bahwa ketiga negara itu dapat menjadi lokasi sulit untuk menanamkan modal.

Pada pekan lalu, aliran dana keluar dari reksadana obligasi pasar negara berkembang meningkat dua kali lipat ketimbang pekan sebelumnya hingga nyaris mencapai $6 miliar. Situasi tersebut mencatatkan lima pekan terakhir sebagai periode selloff tanpa jeda terbesar sejak 2009.

Bagi tiga negara itu, yang pertumbuhannya mengimbangi perlambanan ekonomi AS dan Eropa pada masa krisis, kondisi menjadi suram. Guna mencari imbal hasil lebih baik, para investor mengguyur pasar negara berkembang dengan modal dalam empat tahun terakhir. Modal swasta yang mengalir ke pasar negara berkembang pada rentang 2009-2012 adalah $4,2 triliun, jumlah itu melebihi modal yang ditanamkan pada Bursa Efek Tokyo.

Sementara itu, meskipun jumlah modal yang ditarik dari pasar negara berkembang belum melebihi level tahun 2008, ada kemungkinan tren penarikan terus berlanjut seiring dengan berkembangnya sentimen negatif.

Aksi selloff terkoordinir di pasar negara berkembang mengingatkan para investor akan kepanikan di masa silam saat kenaikan suku bunga AS memicu kekisruhan ekonomi dan politik di negara lain. Krisis utang Meksiko pada 1994 dan krisis keuangan Asia pada 1997, yang menyebar mulai dari Asia Tenggara hingga Korea dan Rusia, termasuk dalam kategori itu.

Beberapa pihak memprediksi situasi sekarang akan berubah menjadi kepanikan global. Pasar negara berkembang, dengan beberapa pengecualian, kini punya posisi lebih baik dalam menahan guncangan ekonomi dengan bertumpuknya cadangan devisa dan sedikit ketergantungan pada utang mata uang asing, elemen utama yang membuat krisis Asia 1997 terjadi begitu parah.

(Sap)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar