Sabtu, 22 Juli 2017

world-economy  World Economy

Dibayangi Isu UMR, Pengusaha Restoran Buka Wacana Pegawai Robot

Senin, 26 Mei 2014 10:41 WIB
Dibaca 836

Monexnews - Tuntutan buruh restoran cepat saji di Amerika Serikat soal kenaikan upah minimum justru berpotensi mengancam mata pencarian mereka. Perusahaan fastfood kini membuka wacana penggunaan tenaga robot karena dianggap lebih hemat dan efisien ketimbang harus menaikkan upah semua karyawan menjadi $15 per jam.

Propaganda mulai dilakukan oleh badan dan lembaga yang pro terhadap kebijakan pemilik modal di industri restoran. Melalui media massa, restoran-restoran cepat saji menyebarkan wacana penggantian tenaga manusia dengan robot jika tuntutan upah pekerja dikabulkan pemerintah. "Apabila harus menaikkan upah menjadi $15, maka restoran harus mengurangi biaya operasional," demikian bunyi salah satu iklan yang pernah dipasang di Wall Street Journal tahun lalu oleh Employment Policies Institute, kala isu kenaikan UMR mulai merebak. Menurut lembaga yang pro dengan kepentingan pengusaha itu, posisi untuk karyawan level rendahan akan berkurang karena perusahaan tentu akan lebih memilih penggunaan teknologi alternatif karena lebih hemat biaya. Iklan-iklan sejenis kembali muncul di media belakangan ini sebagai bentuk perlawanan pengusaha terhadap aspirasi pekerja.

Wacana otomatisasi restoran bahkan disambut baik oleh pelaku usaha, yang memiliki modal kuat untuk mengganti perangkat dapur dan sistem pelayanan dari tenaga manusia. Panera Bread bahkan sudah meluncurkan layanan otomatis berupa kios penjualan yang sepenuhnya dijalankan oleh mesin. Sementara dalam tiga tahun ke depan, perusahaan roti ini menargetkan seluruh pemesanan bisa dieksekusi langsung via perangkat ponsel tanpa harus berinteraksi dengan pegawainya di toko. Sementara resto lainnya, Chili's dan Applebee, juga sudah menempatkan tablet layar sentuh di meja makan sehingga konsumen bisa memesan makanan tanpa harus memanggil pelayan. Proses pembayaran bahkan bisa dilakukan tanpa harus ke kasir.

Perusahaan teknologi seperti IBM akan sangat diuntungkan oleh perubahan trend layanan cepat saji, khususnya apabila tuntutan upah $15 per jam disetujui pemerintah. Dengan mengusung platform andalan yang dinamai Watson, IBM akan dapat menolong pemilik restoran yang ingin segala aktivitas pelayanan berlangsung secara otomatis. Watson sendiri merupakan platform yang dirancang untuk membaca dan memahami bahasa manusia melalui interaksi yang dilakukannya. Menurut hasil riset University of Oxford, sebanyak 92% restoran diklaim sudah membuka wacana otomatisasi layanan dalam aktivitas operasionalnya. Namun pelaku industri masih memantau perkembangan terbaru menyangkut negosiasi upah sebelum memastikan langkah berikutnya.

Unjuk Rasa McDonald's

Seperti diberitakan sebelumnya, sebanyak 110 orang ditangkap oleh polisi kota Chicago tengah pekan lalu sehubungan dengan aksi unjuk rasa di kantor pusat McDonald's. Mereka ditahan karena memaksa masuk ke kantor utama jaringan restoran terbesar di dunia itu.

Menurut laporan media Amerika, rombongan pengunjuk rasa berjalan menuju kantor pusat McDonald's untuk menyuarakan aspirasinya kepada pihak direksi. Namun sebanyak 250 aparat keamanan termasuk kepolisian Chicago melakukan blokade di depan lokasi kantor.

Tuntutan utama para demonstran, yang sebagian besar merupakan pekerja restoran fastfood, adalah kenaikan upah minimum menjadi $15 per jam. "Kami ingin memastikan bahwa pemegang saham McDonald's dan CEO Don Thompson mendengarkan aspirasi kami," ujar Kendall Fells, juru bicara organisasi buruh FastFood Forward.

Pergerakan massa terkait isu upah minimum berawal pada tahun 2012 lalu di New York, dan kemudian menyebar ke kota-kota besar lainnya termasuk Boston, Chicago, Denver, Houston, Los Angeles dan Memphis. Dalam perjalanannya, pengunjuk rasa didominasi oleh karyawan restoran terkenal seperti McDonald's, Burger King (BKW), Wendy's (WEN) dan Yum! Brands, pemilik merek dagang KFC. Mereka meminta UMR dikerek menjadi $15 per jam dan diberikan ruang untuk membentuk serikat pekerja.

Saat ini upah rata-rata di Amerika baru sebesar $9 per jam atau setara $18.500 per tahun. Jumlah itu $4500 lebih rendah dibandingkan ambang batas hidup layak yang ditetapkan oleh badan sensus, yang sebesar $23000 per tahun. Beberapa karyawan bahkan mengaku tidak pernah makan di tempat mereka bekerja karena dianggap terlalu mahal.


(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar