Jumat, 24 Maret 2017

world-economy  World Economy

ECB Nowotny Tidak Menutup Peluang QE

Jumat, 31 Oktober 2014 19:26 WIB
Dibaca 671

Monexnews - Berlarutnya tingkat pertumbuhan yang rendah adalah resiko terbesar yang dihadapi oleh zona euro, menurut anggota Dewan Kebijakan European Central Bank Ewald Nowotny pada hari Jumat, sembari menolak mengesampingkan program quantitative easing (QE) untuk zona euro. "Menurutku kita semua telah belajar sesuau dalam hidup bahwa jangan bilang 'tidak akan pernah'," ucap Nowotny yang juga mengepalai bank sentral Austria, saat ditanyakan mengenai peluang QE. Komentar tersebut cukup mengejutkan mengingat langkah kebijakan Nowotny yang biasanya hawkish. Ia dilaporkan berpihak pada Jens Weidmann kepala bank sentral Jerman dalam voting menentang program pembelian sekuritas berbasis aset (ABS), yang mana diumumkan bulan September lalu. 

Nowotny menolak untuk berkomentar pada hari Jumat, dan juga menolak untuk mengesampingkan perluasan program pembelian tersebut untuk mengikutsertakan obligasi korporat, atau bahkan obligasi pemerintah. "Kami saat ini baru saja memulai sejumlah program baru. Menurutku butuh waktu untuk melihat dampaknya," ucapnya. Bursa saham global goyah pada hari Rabu dan Kamis setelah the Fed menyuarakan nada hawkish seiring mengkonfirmasi berakhirnya program pembelian obligasi miliknya. Nowotny mengatakan bagaimanapun juga langkah tersebut hanya akan memiliki dampak kecil terhadap Eropa, terutama terkait aliran modal.
Nowotny menambahkan bahwa tingkat pertumbuhan ekonomi yang terus berada di level rendah menjadi ancaman yang lebih beasr terhadap zona euro daripada pertumbuhan yang flat atau bahkan kontraksi ekonomi. Estimasi ECB mengindikasikan perekonomian zona euro flat antara bulan April hinga Juni tahun ini, setelah bertumbuh sebesar 0.2% di kuartal pertama. "Menurutku ini adalah tantangan tersebut yang kita hadapi saat ini," ucap Nowotny. Ia juga sepakat bahwa euro mungkin akan terus terdepresiasi tajam, menggambarkan hal tersebut sebagai "efek samping" dari kebijakan stimulus ECB. "Jika kita melihat pada konteks historikal, sudah tentu ada potensi penurunan euro," ucapnya. Euro telah melemah sekitar 6% terhadap dollar sejak level tinggi tahun 2014 di bulan Juni.

(xiang)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar