Kamis, 19 Januari 2017

world-economy World Economy

Ekonomi Global Membaik, RI Berpotensi Tumbuh 5,8 Persen Tahun Depan

Selasa, 24 Juni 2014 11:26 WIB
Dibaca 461

Monexnews - Pertumbuhan ekonomi global yang diperkirakan mengalami perbaikan pada tahun 2015 mendatang diyakini akan membawa dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi domestik. Pada tahun 2015, pertumbuhan ekonomi dunia diproyeksi berada di level 3,9 persen, lebih tinggi dari tahun ini yang sebesar 3,6 persen.

“Kita melihat ada kecenderungan bahwa untuk tahun 2015 diharapkan pertumbuhan ekonomi global itu sedikit lebih baik daripada pertumbuhan di tahun 2014,” demikian dikatakan Menteri Keuangan M. Chatib Basri dalam rapat kerja dengan Dewan Perwakilan Daerah yang membahas pokok-pokok kebijakan fiskal dan dana transfer ke daerah dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) tahun anggaran 2015 di Jakarta, Senin (23/6).

Menkeu menambahkan, pertumbuhan ekonomi negara-negara maju diproyeksi akan mengalami perbaikan menjadi 2,3 persen pada tahun 2015, dari sebelumnya 2,2 persen pada tahun ini. Namun demikian, perbaikan yang cukup signifikan justru datang dari negara-negara berkembang. Pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang pada tahun 2015 diproyeksi akan berada di level 5,3 persen, dari yang sebelumnya 4,9 persen pada tahun ini. “Negara maju sedikit mengalami perbaikan, tetapi perbaikan yang cukup signifikan itu datangnya dari negara berkembang, yang tadinya 4,9 (persen) jadi 5,3 (persen),” ungkapnya.

Dengan dinamika perekonomian global yang menujukkan perbaikan tersebut, prospek pertumbuhan ekonomi domestik diproyeksi membaik tahun depan, dan akan berada di kisaran 5,8 persen. “Proyeksi pertumbuhan ekonomi berdasarkan economic forecaster-nya, itu rata-ratanya pertumbuhannya adalah 5,8 persen,” ungkap Menkeu. Angka tersebut masih sejalan dengan proyeksi Bank Indonesia, yaitu pada kisaran 5,4 hingga 5,8 persen.

Namun demikian, meskipun pertumbuhan ekonomi global diproyeksi membaik, masih ada beberapa hal yang perlu diwaspadai. Di Amerika Serikat, misalnya, masih akan berlanjutnya kebijakan tapering off dan potensi kenaikan Federal Fund Rate merupakan risiko yang harus diwaspadai. Selain itu, meskipun pertumbuhan ekonomi negara-negara Eropa menunjukkan tren positif, tetapi tetap masih dibayangi pelemahan.

Risiko juga datang dari kenaikan pajak penjualan di Jepang pada Bulan April lalu, yang akan berdampak pada tingkat daya beli masyarakatnya. Di Tiongkok sendiri, pertumbuhan ekonominya menunjukkan perlambatan, sehingga arah kebijakan negara itu akan bergeser pada konsumsi domestik sebagai penggerak pertumbuhan. Sementara itu, India juga masih dihadapkan pada persoalan tekanan current account deficit.(nv)

 

Sumber: rilis berita Kementerian Keuangan Republik Indonesia
www.kemenkeu.go.id
- disadur tanpa penyuntingan

 

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar