Jumat, 24 Maret 2017

world-economy  World Economy

Ekonomi Lesu, Gaji Warga Inggris Turun Drastis

Kamis, 7 Maret 2013 11:06 WIB
Dibaca 643

Monexnews - Fase perlambatan ekonomi di negara-negara maju membuat pelaku bisnis dan lembaga pemerintah harus melakukan efisiensi besar-besaran dalam beberapa tahun terakhir. Imbasnya sangat dirasakan oleh warga, yang dipaksa menerima upah lebih kecil dibanding apa yang biasanya mereka terima.

Inggris merupakan salah satu negara yang mengalami trend pengurangan gaji terbesar di Eropa. Menurut studi yang dilakukan oleh Trade Union Congress (TUC), tingkat upah riil pekerja di Inggris merosot 4,5% sejak 2007, atau di saat krisis keuangan global meledak, hingga tahun 2011. Rasio penganggurannya sendiri identik dengan Amerika Serikat yakni sebesar 7,8% namun relatif lebih rendah dibandingkan rekor pengangguran tertinggi di zona Euro yang mencapai 11,9%. Dari 10 negara ekonomi paling maju di dunia, Italia berada di urutan ke-dua dalam urusan penurunan jumlah gaji yaitu sebesar 2,7% selama lima tahun terakhir. Sementara Jepang menyusul di belakangnya dengan rasio penurunan angka pendapatan sebanyak 0,7%. Menurut TUC, tingkat upah di Amerika Serikat dan Jerman cenderung tidak berubah dalam periode yang sama. Sebaliknya, jumlah pendapatan warga Australia justru meroket 7% berkat kemajuan di sektor produksi komoditi.

"Banyak negara mengalami trend penurunan upah, namun tidak ada yang seburuk Inggris," urai Sekjen TUC, Frances O'Grady. Pekerja di sektor swasta dan lembaga pemerintahan sangat terimbas oleh iklim resesi dan stagnasi. Kebijakan pemangkasan yang diambil pemerintah pusat menyebabkan penurunan jumlah pegawai negeri, kenaikan pajak, pengurangan tunjangan dan pembatasan upah. Kecemasan banyak perusahaan terhadap prospek bisnis juga membuat rasio kenaikan gaji berada di bawah rata-rata inflasi, yang angkanya konsisten di atas target bank sentral. Kondisi tersebut kemungkinan berlangsung lebih lama, khususnya menjelang aktivasi rencana pelonggaran moneter dan stimulus baru oleh pemerintah.

"Pengusaha ingin agar konsumen membelajakan lebih banyak uang, namun di saat yang sama warga Inggris ramai-ramai berhemat karena gajinya turun," tambah O'Grady. Ia menilai trend pendapatan seperti ini tidak akan berakhir dalam waktu cepat selama pertumbuhan ekonomi masih negatif dan kenaikan gaji tidak kunjung terwujud. Daya beli konsumen tidak akan mampu mengangkat jumlah laba perusahaan dan siklus seperti ini terus berputar dari waktu ke waktu.

Bank of England akan bertemu hari Kamis ini untuk menentukan kebijakan stimulus, dengan menambah porsi dana dalam program quantitative easing. Perekonomian Inggris terjebak dalam fase resesi triple dip, menyusut sebanyak 0,3% di kuartal akhir 2012. Moody's melucuti rating kredit AAA yang dimiliki Inggris bulan lalu setelah mempertimbangkan prospek ekonomi negara itu. Kamar Dagang Inggris bahkan memangkas rasio pertumbuhan nasional tahun ini menjadi hanya 0,6%.

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar