Senin, 23 Januari 2017

world-economy  World Economy

Gairah Bisnis Memburuk, Beban RBA Semakin Berat

Selasa, 10 Maret 2015 11:54 WIB
Dibaca 464

Monexnews - Kebijakan Bank Sentral Australia (RBA) via pemangkasan suku bunga mulai bulan Februari belum berhasil mengangkat gairah bisnis. Pelaku bisnis masih skeptis dengan prospek usaha di negeri kangguru. 

Menurut laporan indeks kepercayaan bisnis yang dirilis oleh National Australia Bank, tingkat keyakinan pelaku usaha masih memprihatinkan. Business confidence index turun dari level 3 menjadi nol di bulan Februari 2015. Sementara angka business conditions tetap stabil di 2 poin. Kepercayaan bisnis berada di level terendah sejak terakhir kali anjlok tajam sebelum pemilu September 2013 lalu.

Penurunan indikator bisnis ini semakin memperkuat ekspektasi adanya pemangkasan suku bunga susulan oleh bank sentral tahun ini. Jika itu yang terjadi, otoritas kembali harus mengorbankan nilai tukarnya tergerus di pasar uang, setelah sampai pada posisi terendah dalam 6 tahun terakhir terhadap US Dollar. Bulan lalu central bank menurunkan target cash rate ke rekor terendah 2,25% dari posisi awal 2,50%. Pemangkasan itu menjadi yang pertama dalam 18 bulan terakhir dan bertujuan untuk meningkatkan aktivitas bisnis di luar sektor andalan Australia.

Perekonomian Australia tumbuh sangat lambat di kuartal terakhir 2014. Hal itu turut berdampak pada kenaikan jumlah pengangguran hingga level tertinggi dalam 13 tahun terakhir karena daya serap SDM perusahaan semakin menurun. Untuk menangani masalah tersebut, Bank Sentral Australia mulai memangkas suku bunga acuan di bulan Februari setelah sempat vakum menggunakan wewenangnya itu sejak pertengahan 2013. Di saat yang sama ia memberi isyarat adanya pemangkasan suku bunga lanjutan, dan pelaku pasar langsung memprediksi setidaknya akan ada satu kali penurunan lagi di 2015.

Sumber perlambatan ekonomi Australia tidak lain adalah menurunnya arus investasi dan ekspor komoditas ke luar negeri. Produsen hasil tambang tidak bisa lagi menikmati perolehan laba dari penjualan produknya seperti 5 tahun lalu. Harga bijih besi misalnya, sudah anjlok sekitar 50% dalam setahun terakhir, padahal komponen ini merupakan barang ekspor terbesar negeri kangguru. Sementara ekspor liquefied gas dari tambang di wilayah Timur dan Utara juga menurun akibat terpengaruh oleh kemerosotan harga minyak mentah.

Perlambatan ekonomi turut berujung pada pelemahan mata uang Dollar Australia. Kurs AUD anjlok sekitar 15% sejak medio 2014 karena bank sentralnya tidak suka jika kurs terlalu kuat. Pelemahan nilai tukar dianggap oleh otoritas sebagai alat bantu untuk mengoptimalkan pemasukan dari luar.

Secara keseluruhan, perekonomian Australia hanya tumbuh 0,5% di kuartal terakhir 2014 dibandingkan triwulan III. Gross domestic product juga naik sebesar 2,5% dibandingkan satu tahun lalu atau sejalan dengan perkiraan analis keuangan, 0,5% (kuartalan) dan 2,4% (tahunan). Laju pertumbuhan ekonomi masih berada di bawah 3,0% per tahun atau batas ideal yang diklaim oleh banyak ekonom sebagai titik balik untuk menekan pengangguran dari angka 6,4%. Strategi suku bunga adalah senjata utama untuk mempercepat roda bisnis di tahun 2015, dan level rendah 2,5% masih belum cukup untuk mewujudkannya. (dim)

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar