Kamis, 19 Januari 2017

breaking-news Bank of Canada mempertahankan suku bunga di level 0.50%.

world-economy World Economy

Gelar Rapat Darurat, Bank Sentral Turki Cemaskan Performa Lira

Selasa, 28 Januari 2014 11:52 WIB
Dibaca 540

Monexnews - Trend penurunan kurs mata uang negara berkembang (emerging economies) mendapat perhatian khusus dari pemerintah dan bank sentral beberapa negara. Otoritas moneter Turki bahkan berencana menggelar rapat darurat untuk membahas kinerja kurs Lira pada hari ini (Selasa 28/01).

Aksi jual mata uang negara emerging melanda pasar forex sejak pekan lalu. Selain Peso Argentina dan Rupee India, valuta Lira Turki merupakan salah satu aset yang terpukul oleh optimisme ekonomi di negara maju. Bukan itu saja, maraknya budaya korupsi juga membuat mata uang Turki kehilangan daya tarik di mata investor.

Dalam satu bulan terakhir, Lira Turki merosot ke rekor terendah terhadap US Dollar dan anjlok tajam terhadap Euro. Harga saham di negara itu juga melemah drastis pasca terungkapnya berbagai kasus korupsi di sektor kelembagaan pemerintah. Polisi sejauh ini sudah menahan beberapa orang penting, termasuk anak-anak dari 3 menteri yang masih aktif menjabat, seorang walikota dan seorang bos perbankan nasional. Penyelidikan polisi semakin menurunkan citra kabinet Recep Tayyip Erdogan jelang pemilu bulan Agustus mendatang.

Rapat darurat yang diadakan hari ini akan berlangsung tepat satu pekan setelah bank sentral menahan suku bunga di level 7.75%. "Sesi pertemuan akan membahas soal perkembangan terbaru dan kebijakan untuk menstabilkan harga," demikian pernyataan resmi bank sentral. Terbuka peluang kenaikan suku bunga untuk membendung depresiasi Lira. Mata uang Turki memang menjadi salah satu komponen aset yang paling terpukul dalam trend aksi jual mata uang negara berkembang belakangan ini. Sebagian besar pelaku pasar sudah yakin kalau Federal Reserve, Bank of England dan Bank of Japan akan mengurangi porsi stimulus ekonominya masing-masing dalam waktu dekat. Hal inilah yang mendorong investor untuk melepas kepemilikan mata uang negara berkembang dan membidik aset yang lebih prospektif seperti Dollar dan Euro. Dalam setengah dasawarsa terakhir, aset negara-negara berkembang memang melonjak berkat kebijakan moneter longgar di negara maju.

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar