Kamis, 23 Maret 2017

breaking-news Penjualan Ritel Inggris bulan Februari 1.4% vs -0.5% bulan Januari, dari estimasi 0.4%.

world-economy  World Economy

Gubernur BI: Selisih Current Account Adalah Resiko Terbesar Saat Ini

Rabu, 23 Juli 2014 15:55 WIB
Dibaca 555

Monexnews -

Selisih current account Indonesia dapat menimbulkan resiko terbesar terhadap ekonomi yang mana itu perlu di reformasi secara struktural oleh Presiden baru yang terpilih, kata Gubernur Bank Indonesia  Agus Martowardojo.

Meningkatnya impor minyak dan larangan ekspor bijih besi telah menghambat upaya dari bank sentral untuk memperbaiki neraca perdagangan, kata Agus Martowardojo pada hari ini dalam berikan tanggapan tertulis atas pertanyaan Bloomberg. Para pembuat kebijakan, yang menaikan suku bunga pada tahun lalu untuk mengatasi selisih current account dan pelemahan rupiah, saat ini tidak ingin melukai momentum pertumbuhan di masa mendatang, kata Agus Martowardojo.

Komentar Agus Martowardojo menguraikan tantangannya untuk negara dengan tingkat ekonomi terbesar di Asia (Indonesia) sehari setelah Joko Widodo di nyatakan sebagai Presiden Indonesia selanjutnya. Jokowi memiliki tujuan untuk meningkatkan infrastruktur dan ingin memulai meningkatkan laju pertumbuhan Indonesia yang belum pernah terlihat sejak sebelum krisis keuangan Asia di tahun 1990, perubahan tersebut katanya akan meningkatkan pengaruh di negara dengan tingkat populasi terbesar ke empat di dunia tersebut.

“Resiko utama untuk ekonomi Indonesia adalah melebarnya defisit current account,” kata Agus Martowardojo, yang memperkirakan selisih tersebut akan berkisar 3% dari GDP tahun ini. “Sentimen positif seharusnya akan menguat seiring terpilihnya pemerintahan yang baru yang dapat melakukan reformasi struktural yang komprehensif untuk menciptakan pertumbuhan yang kuat dan berkelanjutan.”

Martowardojo menegaskan bahwa perkiraan bank sentral terhadap pertumbuhan ekonomi akan bergerak secara moderat dalam kisaran 5.1% - 5.5% pada tahun ini, dan untuk inflasi di tahun 2014 akan mencapai 3.5% - 5.5%.

“Kebijaka moneter akan bergantung pada data saat ini,” katanya. “Untuk saat ini, kami ingin memastikan bahwa kebijakan stabilisasi kami sedang melaksankan kerjanya denga baik tanpa harus mengorbankan momentum pertumbuhan di masa mendatang.”

(fsyl)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar