Senin, 24 Juli 2017

world-economy  World Economy

Pelambatan Laju Ekspor Jadi Tekanan Terhadap Rupiah

Rabu, 1 Mei 2013 15:25 WIB
Dibaca 392

Monexnews -

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan maju terus menerapkan rencananya mengurangi subsidi bahan bakar minyak (BBM) bulan ini, meski risiko politiknya tinggi. Para ekonom mendukung kebijakan ini, namun pemangkasan subsidi BBM tampaknya bakal mendapat reaksi keras.

Harga bensin premium dan solar, yang keduanya bersubsidi, dipatok pada Rp4.500 per liter selama empat tahun terakhir. Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, Bambang Brodjonegoro, sempat menyatakan bahwa harga yang layak untuk BBM bersubsidi adalah Rp6.000 per liter. Menurut Bambang, pemerintah dapat menghemat kira-kira Rp30 triliun tahun ini jika harga BBM meningkat ke level itu.

Indonesia bergantung pada impor minyak bumi untuk memenuhi sekitar 40% dari kebutuhan BBM. Kenaikan harga minyak dunia membuat pemerintah kelimpungan. Indonesia pun didera defisit perdagangan. Defisit perdagangan yang melebar akhirnya berdampak pada nilai tukar rupiah. Pada 2012, rupiah bahkan menjadi mata uang dengan performa terburuk di Asia, meski perekonomian Indonesia bertumbuh.

Berbagai analis pesimis jika pemerintah tak mengeluarkan kebijakan, defisit fiskal yang lebih lebar dapat menciptakan sentimen negatif dalam pasar, dikarenakan keraguan para Investor terhadap kesinambungan fiskal Indonesia.

Katalis negatif lainnya terhadap rupiah adalah laporan pertumbuhan ekspor impor yang mengalami kontraksi -13.03% YoY, melanjutkan kejatuhan laju ekspor dalam 12 bulan berturut-turut, sebagian besar disebabkan oleh kejatuhan harga komoditas dan rebound ekonomi China yang lebih lemah dibanding estimasi. Apalagi di saat bersamaan data manufaktur China dilaporkan cukup lemah, sehingga menambah pesimisme para pelaku pasar terhadap perbaikan laju ekspor.

Laporan pertumbuhan impor juga mengalami penurunan ke level 9.97% YoY, di satu sisi melambatnya pertumbuhan impor memang dapat membantu perbaiki trade balance, namun di saat bersamaan laju pertumbuhan investasi juga melambat. Apalagi ditengah kenaikan upah minimum tenaga kerja Indonesia yang menyebabkan para investor enggan untuk menambah investasi nya di dalam negeri ditengah krisis utang Eropa, dan masalah kenaikan angka penggangguran di AS maupun Eropa.

(Sap)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar