Kamis, 23 Maret 2017

world-economy  World Economy

Hari Ini, Argentina akan Menerima Vonis Default

Rabu, 30 Juli 2014 11:14 WIB
Dibaca 1024

Monexnews -  Rabu, tanggal 30 Juli 2014 merupakan momen penting bagi negara Argentina. Mengingat hari ini adalah hari terakhir bagi pemerintahnya untuk melunasi hutang kepada investor sekitar $1.5 miliar atau setara Rp17.4 triliun.

Dalam beberapa jam ke depan, Argentina akan mengalami default (gagal bayar hutang) ke-tiganya dalam 28 tahun terakhir. Menerima status default sama artinya dengan menyambut perlambatan ekonomi nasional karena negara kehilangan akses untuk meraup modal segar. Beberapa analis dan ahli ekonomi menganggap pihak Buenos Aires terlalu meremehkan efek dari default dengan terus mengulur waktu pelunasan hutang terdahulu. "Pemerintah Argentina sepertinya menganggap enteng guncangan yang akan terjadi," ujar Hans Humes, pendiri bank investasi Greylock Capital Management, yang juga merupakan salah satu kreditur swasta bagi negara Amerika Selatan tersebut.

Pengadilan Amerika Serikat telah memerintahkan Argentina untuk melunasi hutang (beserta bunganya) yang sudah berjalan selama lebih dari satu dasawarsa, namun pemerintahnya masih saja bersikap abai. Presiden Cristina Fernandez de Kirchner seakan lebih memilih untuk default ketimbang harus menuruti permintaan bank-bank investasi yang ingin menarik kembali modalnya. Argentina menolak untuk membayar hutang secara full karena takut kalau investor lain akan meminta hal serupa. Padahal beberapa investor non-swasta sebelumnya sudah menerima kerugian (haircut) atas investasinya pada surat hutang Argentina beberapa tahun silam. Atas dasar itulah pemerintah meminta kelonggaran pelunasan dengan cara mencicil, namun wacana tersebut ditolak oleh investor swasta yang kebanyakan adalah bank-bank asal Amerika Serikat.

Mediator pengadilan antara Argentina dan pihak kreditur, Daniel Pollack, pada hari Kamis kemarin menyebut pemerintah menolak bertemu dengan grup investor swasta karena alasan yang belum jelas. Sementara dari pihak swasta, bank investasi NML Capital mengklaim Argentina tidak punya itikad baik untuk menyelesaikan masalahnya. "Jelas sekali kalau mereka (pemerintah Argentina) memilih untuk default pekan depan," ujar utusan dari NML kepada media. Bank investasi ini menilai bahwa presiden de Kirchner sendiri yang seakan membuat solusi mustahil tercapai

Lembaga keuangan Capital Economics memprediksi perekonomian Argentina akan turun 1% tahun ini karena terpengaruh oleh default hutang. Pasalnya iklim investasi akan melambat seiring dengan keengganan bank dan pihak luar untuk menanamkan dananya di sektor perekonomian.

Kilas Balik Hutang Argentina

Lebih dari satu dasawarsa lalu, Argentina mencatat beban hutang besar karena perekonomian domestiknya mengalami gejala resesi dan sektor perbankannya hancur lebur. Masalah itu memuncak pada tahun 2001 sampai akhirnya pemerintah mengumumkan default (gagal bayar) dengan total tanggungan mencapai $132 miliar. Angka tersebut adalah default terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah ekonomi dunia. Mata uang peso bahkan tergerus tajam terhadap Dollar hingga nyaris tidak memiliki nilai tukar layak.

Situasi baru berbalik positif di tahun 2010, saat pertumbuhan ekonomi Argentina mencapai 9,2% berkat kinerja ekspor yang prima. Kunci utama dari keberhasilan negara ini adalah pematokan nilai tukar valuta domestik pada level rendah meskipun di saat yang sama pemerintahnya bermain api dengan mengabaikan beban hutang dan mengulur waktu pembayarannya. Langkah ini diambil dengan bermodalkan kurs valuta yang murah untuk meraup pemasukan dari sektor ekspor.

Sebagai kilas balik, Argentina sempat mematok kurs 1 Peso sama dengan 1 Dollar pada tahun 1991. Hal tersebut dilakukan guna mengendalikan inflasi dan stabilisasi kinerja perbankan. Patut dicatat bahwa inflasi tahunan Argentina pada tahun 1989 sempat mencapai 5000%! Suatu rekor yang membuat kursi presiden Raul Alfonsin terguncang hebat. Sayangnya, kebijakan kurs 1 berbanding 1 hanya efektif selama satu tahun. Angka inflasi memang tergerus sangat besar, dari 3.000% sebelum kebijakan, menjadi 3,4% di tahun 1994. Di samping itu, pelaku bisnis benar-benar menikmati laba dari lonjakan harga produk primer sehingga GDP tumbuh pada rerata 8% antara tahun 1991 dan 1995. Pintu perdagangan terbuka lebar sampai total impor meningkat dari US$ 11,6 miliar pada 1991 menjadi US$32,3 miliar pada tahun 2000. Demikian juga dengan sektor ekspor, yang juga melonjak dari US$ 12,1 miliar pada tahun 1991 menjadi US$ 30,7 miliar pada tahun 2000. Banyak lagi komponen bisnis negara yang diuntungkan oleh kebijakan valuta itu, sampai akhirnya Argentina menanggung efek perbuatannya.

Sepuluh tahun pasca kebijakan valuta, sistem keuangan Argentina bergejolak. Pematokan kurs 1 berbanding 1 membuat beban negara membengkak, semua karena sebagian besar hutang tercatat dalam denominasi Dollar. Pada Desember 2001, pemerintah melarang penarikan tunai nasabah bank lebih dari 1000 Peso (1000 Dollar) per bulan. Kebijakan ini kemudian dikenal dengan sebutan 'Corralito'. Perekonomian yang memburuk, ditambah tingkat upah rendah memicu kerusuhan antara aparat keamanan dan golongan pekerja di ibukota. Sebanyak 27 orang bahkan menjadi korban jiwa dari kerusakan sistem ekonomi nasional kala itu.

Pemerintah akhirnya mengakhiri pemasungan kurs Peso terhadap Dollar dan menyerahkan kinerja valuta domestik kepada pelaku pasar. Banyak orang Argentina kehilangan porsi simpanan akibat liberalisasi kurs ala pemerintah. Nilai tukar Peso akhirnya hanya setara dengan 2/3 mata uang Dollar. GDP anjlok sampai 11% pada 2002 dan pengangguran sampai pada level 25%. Sebuah potret buruk bagi negara yang sedang belajar untuk mandiri .

Argentina mengalami trauma akibat kebijakan untuk membiarkan kurs bergerak bebas. Namun kondisi sulit tidak berlangsung lama, karena GDP kembali naik sampai 9% pada 2003 dan bertahan beberapa tahun kemudian. Booming harga komoditi dan peningkatan ekspor sangat berperan dalam upaya perbaikan, yang tentu hanya bisa dicapai dengan penerapan kurs valuta rendah. Sedangkan untuk melunasi beban pinjaman besarnya, pemerintah membiarkan catatan hutang terbengkalai. Empat tahun kemudian, Argentina baru melakukan negosiasi pembayaran hutang secara parsial dengan tingkat kerugian tertentu harus diterima oleh kreditur. Kebijakan itu membuat Argentina sepenuhnya terisolasi dari pasar kredit internasional dan harus menjalani proses hukum sampai sekarang.   (dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar