Jumat, 15 Desember 2017

world-economy  World Economy

Hindari Kolaps, Pemerintah Rusia Suntik Modal ke Perusahaan BUMN

Senin, 5 Januari 2015 11:02 WIB
Dibaca 796

Monexnews - Sanksi yang dibuat oleh blok barat membuat perusahaan-perusahaan asal Rusia kesulitan membayar dan menerbitkan instrumen kreditnya di luar negeri. Situasi keuangan makin tidak terkendali di tengah anjloknya nilai tukar Ruble terhadap US Dollar.

Untuk menghindari kebangkrutan massal dan stagnasi bisnis, pemerintah Moskow mau tidak mau harus 'mendonasikan' modal kepada beberapa BUMN dan perusahaan besar. Untuk pekan lalu saja, negara menginvestasikan 100 miliar Ruble ($1,7 miliar) ke bank VTB dan mengalokasikan 40 miliar Ruble ($680 juta) di Gazprombank. Dua bank tersebut merupakan institusi keuangan terbesar nasional yang dilarang berhutang kepada investor asal Amerika Serikat dan Rusia. Di sektor energi, pemerintah Rusia membantu dana 150 miliar Ruble ($2,6 miliar) untuk menjalankan proyek gas yang dimiliki oleh Novatek. Perusahaan ini juga mendapat sanksi bisnis dari koleganya yang berada di luar negeri.

Kombinasi antara embargo blok barat dan penurunan harga minyak dunia memang membuat perusahaan-perusahaan di Rusia terancam gulung tikar. Pelemahan Ruble menjadi biang keladi kelesuan bisnis di tahun 2015, terutama bagi eksportir dan perusahaan yang modal operasionalnya bergantung pada kredit asing. Pemerintah Rusia bulan lalu juga sudah meminta bank sentral untuk memberi pinjaman lunak berdenominasi Dollar dan Euro kepada perusahaan swasta. Sebagai timbal balik, mereka harus menyerahkan aset hutang luar negerinya untuk dijadikan agunan.

Artinya, pemerintah akan secara langsung masuk untuk menangani krisis kredit luar negeri tahun depan. Hal ini akan semakin memperburuk citra Rusia di mata lembaga pemeringkat. Tanpa kebijakan itupun sesungguhnya reputasi Moskow sudah cukup jelek, khususnya di mata agensi Standard & Poor's, yang sudah menyematkan outlook kredit 'negatif' kepada negara Rusia. Apabila tidak ada perubahan berarti, rating negara itu kemungkinan besar jatuh ke status 'junk' atau sampah di bulan Januari 2015. "Rusia telah kehilangan ruang gerak di sektor moneternya," ulas S&P dalam laporannya.

Pemerintah Moskow memang memiliki batasan minimal hutang luar negeri. Namun tidak demikian halnya dengan pelaku bisnis dan BUMN yang beroperasi dalam skala internasional. Jika ditotal, BUMN, bank dan perusahaan swasta asal Rusia memendam hutang luar negeri sekitar $600 miliar dan $100 miliar di antaranya akan jatuh tempo tahun depan.

Di sisi lain, pemerintah tidak bisa menolong pelaku usaha tersebut via kebijakan moneter dengan menjual Dollar. Pasalnya cadangan devisa dan emas negara itu sudah berkurang dari $510 miliar (awal 2014) menjadi $414 miliar. Devisa berkurang karena bank sentral menjualnya ke pasar sejak bulan Juni lalu demi membendung pelemahan Ruble.

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar